Kamis, 02 Mei 2013

Aku Tak Pernah Merasakan Pohon Itu Jatuh




Kota ini cukup memuaskan untuk dipuji. Kota ini cukup ramai untuk dipandang. Sudut kota ini cukup indah untuk memukau para tourist  agar berbondong datang sekedar mampir atau menghabiskan waktu untuk bersantai. Kota ini tak kalah kaya akan sumber dayanya. Kota ini memiliki corak kehidupan yang menang akan unik budayanya. Bahasa daerah sini pun tak sulit untuk dipelajari. Penghuni kota ini berbaik hati dan terbagi atas orang-orang modern juga orang-orang tradisional. Ya, mereka yang masih menggenggam budaya masing-masing. Yang di pusat kota berbuudaya modern. Yang di pinggir kota berbudaya tradisional-modern.
“Badhe tindak pundi panjenengan budhe? Lha kula mangke kalih sinten bobok-e? Budhe? Budhhheee ?” Menangis. Anak itu tersedu. Air matanya menandakan tidak boleh ada seorangpun yang menyelip dari sisinya. Bola mata cokelatnya membulat. Memohon. Memegang erat baju terusan ibu-ibu setengah baya disampingnya.
“Orang budhe cuma mau ke kebun Aisyah. Budhe cuma mau kesitu” jawab ibu-ibu gendut itu sembari menunjuk tanaman yang tumbuh subur di kebun rumah joglo nya.
“Oh, ikut ya dhe. Ais mau ambil mangganya. Sudah matang kan dhe?” pipi anak berumur 3 tahun itu menggembung menggemaskan. Matanya yang menghiasi wajahnya menambah hasrat untuk semua orang untuk selalu menyayangi anak itu. Ia nyengir.
Ndak  boleh. Kamu di sini aja jaga ayam nya”
Anak itu hanya memajukan hidung dan mulutnya. Sebut saja ia manyun. Pipinya memerah kesal. Rambut lurus sebatas bahunya bergoyang sedikit. Anak rambutnya ia sibakkan kebelakang. Lucu sekali. Lucu. Senyumnya tulus. Gampang sekali meluncur dari wajahnya yang putih langsat.
^^^
“Bangun dik. Udah jam enam lebih lho. Kamu sekolah ndak?” ia menggoyangkan tubuh adiknya yang masih berbaring di kasur hijau bercorak bunga itu. Berkali-kali ia meneriaki adiknya dari dapur, dari kamar, dan mana saja. Tetap saja adik satu-satunya itu masih mblelot   untuk bangun. Pagi sekali ia sudah bangun. Menyiapkan sarapam, seragam  sekolah, menyucikan sepeda adiknya pula. Segalanya ia lakukan untuk adiknya.
“Hoaamm.. Apa to kak? Nanti dulu..” anak itu menguap lebar sembari menutup mulutnya. Ia berusaha membuka luas-luas pandangan mata. Budaya yang biasa untuk anak Indonesia yang baru saja bangun tidur.
“Bangun adek. Lihat tuh, sudah jam berapa? Diteriakin dari tadi kok ndak bangun-bangun.” Jawab kakak muda itu sembari mengambil selimut yang masih dipertahankan adiknya.
Sontak saja mata Aisyah membelalak lebar setelah memandang jam yang menunjukkan jam 06.00.  Apapun ia tinggalkan begitu saja dan menuju ke kamar kecil dekat dapur rumah mereka yang ber-background hijau muda.
“Ayo kak! Aku udah siap” teriak Aisyah pada kakak laki-lakinya yang hanya lulusan SMP. “Iya” jawab Imam singkat. Segera ia keluarkan sepeda ontel nya peninggalan ayahnya yang sudah pergi entah kemana sejak Aisyah kelas 2.
^^^
Sholat itu tiang agama. Kamu tahu apa manfaatnya? Yang pertama untuk kesehatan, ketentraman, ketebalan iman, dan lain-lain. Fashalli lirabbika wanhar. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. Ingat kan? Tentu kalian harus mengingat untuk keselamatan hidup kalian.
Itulah nasihat yang sering dikeluarkan dari mulut imut Kak Imam disaat Aisyah lupa sholat dan sesekali malas untuk melakukannya. Kakak sulung yang setia. Yang sayang dengan adiknya. Kakak yang membuat Aisyah maju. Dari kelas 2 SD, Aisyah mendapat pendidikan informal dan formal. Informal-nya dirumah nya sendiri. Gurunya yang cerewet terkadang membuat Aisyah kesal. Tak lain Kak Imam. Guru lulusan SMP itu pintarnya melebihi lulusan S2. Lulusan S2 pintar karena belajar. Namun, Kak Imam? Pintar karena otodidac dari lingkungan. Bahkan ia memikirkan sendiri apa yang kira-kira diajarkan di pendidikan lanjut.
Mencoba untuk mandiri itulah kehidupan Aisyah dan Kak Imam. Yang ditinggal orang tua karena cerai dan memberai sendiri-sendiri. Susah dilupakan, namun mudah untuk menyakitkan. Kenangan memang bukan untuk dilupakan, namun untuk dikenang.
^^^
“Ikut aku, Aisyah”
Ora, ora!!  Aisyah ikut aku”
“Stoooppp”
“Diam, kamu”
“Bu, Pak, tangan Aisyah sakit”
“Makanya, ikut aku aja!”
Perdebatan yang tak berujung itu memang tak ada gunanya. Hanya membuang waktu, tenaga, dan lainnya. Tanpa mempedulikan apa yang dipikirkan oleh 2 anak kecilnya. Mendapat pendidikan dari mana coba, tentang arti perceraian. Umur 5 tahun? Sudah tahu? Mustahil. Tangisan Aisyah sudah tak dihiraukan oleh laki-laki berkumis tipis dan wanita langsing berkerudung merah muda itu. Teriakan layaknya wasit juga tidak di dengar oleh kedua insan itu yang memperebutkan siapa yang berhak dan tidak untuk membawa anaknya.
Percuma saja. Perdebatan itu juga tidak menghasilkan keputusan siapa yang dibawa antara ayah dan ibu. Mereka malah tak peduli dan akhirnya, juga tak kembali sampai sekarang. Bulan bisa kah melihat? Bintang mendengar? Tidak! Semuanya sia-sia. Tanpa adanya pikiran dewasa terselip untuk mengasuh anak-anaknya yang masih kecil.
“SUDAHLAH !” hentak ibu itu sambil keluar rumah entah kemana arahnya.
“Ibuuu....” “IBUUUUU” “Ibuu....”
^^^
Allah memberikan ujian kepada umatnya sesuai dengan kemampuannya.
“Kak Imam..?” “Kak?” suara lirih itu memecah hening suasana ruang tamu rumah sederhana itu. Rumah yang tak lain satu-satunya harta berharga. Bukan, masih ada yang jauh lebih berharga untuk mereka berdua. Yaitu kehidupan dan persaudaraan.
“Ais, Ais..” tiba-tiba teriakan dari luar membuat jantung Aisyah berdetak dan merasakan perasaan yang tidak enak. Suara serak basah itu terlihat terputus-putus karena ngos-ngosan.
“Ada apa dhe?
“Kakakmu dirumah sakit. Dia koma lho. Kamu kesana yuk, sama Pakdhe.”
Tanpa but-bet-but, Aisyah meninggalkan rumahnya dan segera naik di boncengan motor Pakdhe nya. Matanya tak tahu harus memandang apa. Apapun terasa blur untuk dilihat. Perasaan anak 9 tahun itu tak menentu. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa jantungnya tiba-tiba menggedor kencang di dadanya.
“Kak? Kak Imaaaamm??”
Teriakan itu percuma saja terlontar. Kakak satu-satunya sudah meninggalkan raganya juga Aisyah. Secepat itukah? Aisyah lesu jatuh tersungkur. Apapun sudah tak dirasakan. Ia pingsan. Kak Imam yang biasanya selalu menolong adiknya, mana? Ia hanya diam terselimut kain putih. Allah yang adil mana?
“Yang sabar, ya nduk.. Ada Pakdhe sama mbokdhe  kok. Sudah, pulang yuk. Pakdhe mau ngurus pemakaman.”
Cepat sekali roda kehidupan berubah? Kenapa manusia diciptakan jika hanya untuk diberi ujian? Itulah yang sedang di pikirkan Aisyah. Ia tak henti-hentinya menangis melepas kakaknya dan sesekali keluar rumah. Tidak ada yang baru untuk dilihat. Lalu, dengan refleks ia menuju kamar Kak Imam. Di sana, ia banyak menemukan kertas-kertas tertempel, gunting, pelekat, dan yang membuat matanya bermuatan 100 watt, yaitu ketika melihat sebungkus obat. Terlihat di kolom indikasi obat tersebut tertulis: “Ginjal”. Ia bosan melihat obat. Ia tertarik untuk membaca satu per satu kertas-kertas yang menempel di dinding, si meja, dan lainnya.
Ketika lahir, pohon keluarga ini masih utuh. Pohon yang selalu disirami keceriaan setelah beberapa tahun. Ditambah ramainya ocehan bayi kecil wanita yang lahir sesudahku. Namun, kenapa tiba0tiba pohon itu tumbang. Dan kini, aku tak pernah merasakan pohon itu jatuh.” Tulisan miring 30 derajat Kak Imam membuat hati Aisyah tersentuh. Kemanakah pohon keluarganya? Dimana? Siapa yang hanya tersisa? Hanya puck ranting terkecil dari pohon itu yang tertinggal.
Ada lagi kertas terindah yang memang Aisyah pikir itu yang istimewa diantara kerta-kertas lusuh itu. Ia sekilas membaca “...Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang., tapi ada yang lebih besar prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup...” lagi-lagi matanya bosan melihat kata-kata di kertas HVS itu yang penuh dengan tulisan. Bukan. Ia tidak bosan. Ia malas untuk mengulang kisah hidup nya. Ia tersenyum lebar dan semangat akan hidupnya. MANDIRI!. Itulah tekad tebalnya yang melekat pada dirinya.
^^^
“Pasien sudah siuman” kata dokter berbaju putih itu pada Gavinella, sahabat Aisyah di SMA. “Baik dok”
Sudah kenyang rasanya setelah mimpi sejarah hidup Ais yang pahit. Di mata Ais, kini ia hanya hidup sebatang kara. Sejarahnya dan kenangannya yang membuat ia berani bertahan hidup tanpa merasakan kasih sayang Kak Imam lagi. Kini, ia masih bersyukur walaupun ia terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Setidaknya, ia masih diberi kekuatan untuk hidup.

J The End J