Kota ini cukup memuaskan untuk dipuji. Kota ini cukup
ramai untuk dipandang. Sudut kota ini cukup indah untuk memukau para tourist
agar berbondong datang sekedar mampir atau menghabiskan waktu untuk
bersantai. Kota ini tak kalah kaya akan sumber dayanya. Kota ini
memiliki corak kehidupan yang menang akan unik budayanya. Bahasa daerah
sini pun tak sulit untuk dipelajari. Penghuni kota ini berbaik hati dan terbagi
atas orang-orang modern juga orang-orang tradisional. Ya, mereka yang masih
menggenggam budaya masing-masing. Yang di pusat kota berbuudaya modern. Yang di
pinggir kota berbudaya tradisional-modern.
“Badhe tindak pundi panjenengan budhe? Lha kula mangke
kalih sinten bobok-e? Budhe? Budhhheee ?” Menangis. Anak itu tersedu. Air matanya
menandakan tidak boleh ada seorangpun yang menyelip dari sisinya. Bola mata
cokelatnya membulat. Memohon. Memegang erat baju terusan ibu-ibu setengah baya
disampingnya.
“Orang budhe cuma mau ke kebun Aisyah. Budhe cuma mau
kesitu” jawab ibu-ibu gendut itu sembari menunjuk tanaman yang tumbuh subur di
kebun rumah joglo nya.
“Oh, ikut ya dhe. Ais mau ambil mangganya.
Sudah matang kan dhe?” pipi anak berumur 3 tahun itu menggembung
menggemaskan. Matanya yang menghiasi wajahnya menambah hasrat untuk semua orang
untuk selalu menyayangi anak itu. Ia nyengir.
“Ndak boleh. Kamu di sini aja jaga ayam
nya”
Anak itu hanya memajukan hidung dan mulutnya. Sebut
saja ia manyun. Pipinya memerah kesal. Rambut lurus sebatas bahunya
bergoyang sedikit. Anak rambutnya ia sibakkan kebelakang. Lucu sekali. Lucu.
Senyumnya tulus. Gampang sekali meluncur dari wajahnya yang putih langsat.
^^^
“Bangun dik. Udah jam enam lebih lho. Kamu sekolah
ndak?” ia menggoyangkan tubuh adiknya yang masih berbaring di kasur hijau
bercorak bunga itu. Berkali-kali ia meneriaki adiknya dari dapur, dari kamar,
dan mana saja. Tetap saja adik satu-satunya itu masih mblelot
untuk bangun. Pagi sekali ia sudah bangun. Menyiapkan sarapam,
seragam sekolah, menyucikan sepeda adiknya pula. Segalanya ia lakukan
untuk adiknya.
“Hoaamm.. Apa to kak? Nanti dulu..” anak itu menguap
lebar sembari menutup mulutnya. Ia berusaha membuka luas-luas pandangan mata.
Budaya yang biasa untuk anak Indonesia yang baru saja bangun tidur.
“Bangun adek. Lihat tuh, sudah jam berapa? Diteriakin
dari tadi kok ndak bangun-bangun.” Jawab kakak muda itu sembari mengambil
selimut yang masih dipertahankan adiknya.
Sontak saja mata Aisyah membelalak lebar setelah
memandang jam yang menunjukkan jam 06.00. Apapun ia tinggalkan begitu
saja dan menuju ke kamar kecil dekat dapur rumah mereka yang ber-background
hijau muda.
“Ayo kak! Aku udah siap” teriak Aisyah pada kakak
laki-lakinya yang hanya lulusan SMP. “Iya” jawab Imam singkat. Segera ia
keluarkan sepeda ontel nya peninggalan ayahnya yang sudah pergi entah
kemana sejak Aisyah kelas 2.
^^^
Sholat itu tiang agama. Kamu tahu apa manfaatnya? Yang
pertama untuk kesehatan, ketentraman, ketebalan iman, dan lain-lain. Fashalli
lirabbika wanhar. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.
Ingat kan? Tentu kalian harus mengingat untuk keselamatan hidup kalian.
Itulah nasihat yang sering dikeluarkan dari mulut imut
Kak Imam disaat Aisyah lupa sholat dan sesekali malas untuk melakukannya. Kakak
sulung yang setia. Yang sayang dengan adiknya. Kakak yang membuat Aisyah maju.
Dari kelas 2 SD, Aisyah mendapat pendidikan informal dan formal. Informal-nya
dirumah nya sendiri. Gurunya yang cerewet terkadang membuat Aisyah kesal. Tak
lain Kak Imam. Guru lulusan SMP itu pintarnya melebihi lulusan S2. Lulusan S2
pintar karena belajar. Namun, Kak Imam? Pintar karena otodidac dari lingkungan.
Bahkan ia memikirkan sendiri apa yang kira-kira diajarkan di pendidikan lanjut.
Mencoba untuk mandiri itulah kehidupan Aisyah dan Kak
Imam. Yang ditinggal orang tua karena cerai dan memberai sendiri-sendiri. Susah
dilupakan, namun mudah untuk menyakitkan. Kenangan memang bukan untuk
dilupakan, namun untuk dikenang.
^^^
“Ikut aku, Aisyah”
“Ora, ora!! Aisyah ikut aku”
“Stoooppp”
“Diam, kamu”
“Bu, Pak, tangan Aisyah sakit”
“Makanya, ikut aku aja!”
Perdebatan yang tak berujung itu memang tak ada
gunanya. Hanya membuang waktu, tenaga, dan lainnya. Tanpa mempedulikan apa yang
dipikirkan oleh 2 anak kecilnya. Mendapat pendidikan dari mana coba, tentang
arti perceraian. Umur 5 tahun? Sudah tahu? Mustahil. Tangisan Aisyah sudah tak
dihiraukan oleh laki-laki berkumis tipis dan wanita langsing berkerudung merah
muda itu. Teriakan layaknya wasit juga tidak di dengar oleh kedua insan itu
yang memperebutkan siapa yang berhak dan tidak untuk membawa anaknya.
Percuma saja. Perdebatan itu juga tidak menghasilkan
keputusan siapa yang dibawa antara ayah dan ibu. Mereka malah tak peduli dan
akhirnya, juga tak kembali sampai sekarang. Bulan bisa kah melihat? Bintang
mendengar? Tidak! Semuanya sia-sia. Tanpa adanya pikiran dewasa terselip untuk
mengasuh anak-anaknya yang masih kecil.
“SUDAHLAH !” hentak ibu itu sambil keluar rumah entah
kemana arahnya.
“Ibuuu....” “IBUUUUU” “Ibuu....”
^^^
Allah memberikan ujian kepada umatnya sesuai dengan
kemampuannya.
“Kak Imam..?” “Kak?” suara lirih itu memecah hening
suasana ruang tamu rumah sederhana itu. Rumah yang tak lain satu-satunya harta
berharga. Bukan, masih ada yang jauh lebih berharga untuk mereka berdua. Yaitu
kehidupan dan persaudaraan.
“Ais, Ais..” tiba-tiba teriakan dari luar membuat
jantung Aisyah berdetak dan merasakan perasaan yang tidak enak. Suara serak
basah itu terlihat terputus-putus karena ngos-ngosan.
“Ada apa dhe?”
“Kakakmu dirumah sakit. Dia koma lho. Kamu kesana yuk,
sama Pakdhe.”
Tanpa but-bet-but, Aisyah meninggalkan rumahnya dan
segera naik di boncengan motor Pakdhe nya. Matanya tak tahu harus
memandang apa. Apapun terasa blur untuk dilihat. Perasaan anak 9 tahun itu tak
menentu. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa jantungnya tiba-tiba menggedor
kencang di dadanya.
“Kak? Kak Imaaaamm??”
Teriakan itu percuma saja terlontar. Kakak
satu-satunya sudah meninggalkan raganya juga Aisyah. Secepat itukah? Aisyah
lesu jatuh tersungkur. Apapun sudah tak dirasakan. Ia pingsan. Kak Imam yang
biasanya selalu menolong adiknya, mana? Ia hanya diam terselimut kain putih.
Allah yang adil mana?
“Yang sabar, ya nduk.. Ada Pakdhe sama mbokdhe
kok. Sudah, pulang yuk. Pakdhe mau ngurus pemakaman.”
Cepat sekali roda kehidupan berubah? Kenapa manusia
diciptakan jika hanya untuk diberi ujian? Itulah yang sedang di pikirkan
Aisyah. Ia tak henti-hentinya menangis melepas kakaknya dan sesekali keluar
rumah. Tidak ada yang baru untuk dilihat. Lalu, dengan refleks ia menuju kamar
Kak Imam. Di sana, ia banyak menemukan kertas-kertas tertempel, gunting,
pelekat, dan yang membuat matanya bermuatan 100 watt, yaitu ketika melihat
sebungkus obat. Terlihat di kolom indikasi obat tersebut tertulis: “Ginjal”. Ia
bosan melihat obat. Ia tertarik untuk membaca satu per satu kertas-kertas yang
menempel di dinding, si meja, dan lainnya.
“Ketika
lahir, pohon keluarga ini masih utuh. Pohon yang selalu disirami keceriaan
setelah beberapa tahun. Ditambah ramainya ocehan bayi kecil wanita yang lahir
sesudahku. Namun, kenapa tiba0tiba pohon itu tumbang. Dan kini, aku tak pernah
merasakan pohon itu jatuh.” Tulisan miring 30 derajat Kak Imam membuat hati
Aisyah tersentuh. Kemanakah pohon keluarganya? Dimana? Siapa yang hanya
tersisa? Hanya puck ranting terkecil dari pohon itu yang tertinggal.
Ada lagi kertas terindah yang memang Aisyah pikir itu
yang istimewa diantara kerta-kertas lusuh itu. Ia sekilas membaca “...Jangan
risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi
depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang., tapi ada yang lebih besar
prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup...” lagi-lagi matanya bosan melihat
kata-kata di kertas HVS itu yang penuh dengan tulisan. Bukan. Ia tidak bosan.
Ia malas untuk mengulang kisah hidup nya. Ia tersenyum lebar dan semangat akan
hidupnya. MANDIRI!. Itulah tekad tebalnya yang melekat pada dirinya.
^^^
“Pasien sudah siuman” kata dokter berbaju putih itu
pada Gavinella, sahabat Aisyah di SMA. “Baik dok”
Sudah kenyang rasanya setelah mimpi sejarah hidup Ais
yang pahit. Di mata Ais, kini ia hanya hidup sebatang kara. Sejarahnya dan
kenangannya yang membuat ia berani bertahan hidup tanpa merasakan kasih sayang
Kak Imam lagi. Kini, ia masih bersyukur walaupun ia terbaring lemah di ranjang
rumah sakit. Setidaknya, ia masih diberi kekuatan untuk hidup.
J The End J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar