Selasa, 17 September 2013

You Belong With Me (Love Story) => Part 2

Part 2

            Kicau burung riuh menyambut pagi, melenguh, memekik, menyanyi. Bersahut-sahutan. Meloncat dari dahan satu kelainnya. Bunga-bunga indah bermekaran, menyebar aroma harum menggoda untuk memetiknya. Pohon-pohon kian bersemi. Butiran es kaca putih sepertinya sudah meleleh. Bongkahan es yang memenuhi daun dan ranting pohon telah mencair. Bulatan-bulatan besar yang mengisi sepanjang aliran sungai telah hilang. Mungkin sudah sejak seminggu lalu. Musim semi sudah datang.

            Ya, memang begitu bukan? Roda kehidupan terus berputar, makin lama putaran itu makin cepat. Entah mengapa? Bukankah semuanya terasa cepat?

            Mentari bersinar seperti biasa. Bulatan besar merah itu selalu sama tiap paginya. Kalau beda, kan nanti semua orang malah jadi ketakutan bukan? Kegiatan yang sama yang kulakukan setiap paginya, menyiram pot bunga yang tumbuh subur dipekarangan rumahku. Sebenarnya, pekarangan depan rumahku kecil. Tapi, apa salahnya aku tanam beberapa tanaman hias disana. Ada beberapa bunga yang kutanam, mawar, melati, tulip, bougenvile, dahlia, orchid dan bunga liar lainnya.

            Kuayunkan selang yang berada digenggamanku mengikuti alur bunga itu. Agar seluruh bunga dapat terbasuh merata. Sehingga, tidak ada yang protes. Topi kecil berpita merah itu membayang menutupi segaris mataku, membiarkan poniku menggantung didahiku. Selaras dengan rok mini sepahaku dan tank top putih yang tertutupi dengan kemeja biru.

            Aku bersenandung, ikut bertanding melawan siulan burung diatap rumahku. Sebuah lagu yang sangat kusukai.

“But she wears short skirts I wear t-shirts She's cheer captainer And I'm on the bleachers…”

            Lalu, kakiku terhentak-hentak mengikuti melodi lagu yang kunyanyikan. Tubuhku ikut bergoyang, tangan kananku mengepal bak memegang sebuah mik mendekatkan ke mulutku, sedangkan salah satu tanganku memegang selang yang entah airnya membasahi dimana-mana, berguncang-guncang tak jelas. Aku bagaikan disebuah panggung besar. Seluruh fansku berteriak-teriak, menyebut namaku, menangis ingin memelukku. Sorotan cahaya besar berbentuk bundaran mengarahku, menyorotiku dimana pun aku pergi. Puluhan sorotan cahaya berwarna-warni menghiasi panggung itu, membuatnya terlihat megah. Ditambah lagi jepretan ribuan kamera, serta puluhan kamera mengarah padaku, menyutingku. Sekarang, aku bagaikan seorang artis terkenal.

            Aku terlalu mengganggap semua itu nyata. Sehingga, tak memerhatikan apa yang terjadi disekitarku? Buktinya, selang yang digenggamanku jatuh tergeletak. Tetap. Aku tak memedulikannya. Aku sampai tak sadar, ada seorang cowok yang berniat jahil padaku sambil tertawa cekikikan melihat tingkah anehku.

            Saat diimajinasiku, ketika aku tengah asik-asiknya menyanyi. Tiba-tiba saja ada ceburan air yang jatuh membasahiku, membuat aku basah kuyup. Dan nyanyianku kacau seketika. Dan parahnya ribuan fansku tertawa terbahak-bahak melihatku seperti itu, aku malu. Tapi, anehnya kenapa ada salah satu suara yang sangat kukenali?

Aku pun sadar seketika. Berjarak sejengkal dariku, berdiri seorang cowok yang…

            Dia. Tertawa manis puas menggodaku, membuyarku dari imajinasi bodohku. Manis sekali. Lesung pipitnya terbentuk sempurna, wajahnya bercahaya, tatapan mata indahnya, mata biji kecil coklat indah itu. Membuat aku terpaku seketika. Menatap kosong kearahnya, sangat dungu. Tidak memedulikan bajuku telah basah sepenuhnya. Tawa manis itu…manis…sangat manis…seandainya kau itu milikku.

            Dia terdiam. Menatapku. Tertawa lagi melihat aku masih diam, sangat terlihat bodoh. Lalu, menyiram selang itu kearahku. Aku pun berteriak keras.

             “Aaa…..Rey stop..stop..” sahutku sambil menghalangi air itu dengan menamengnya dengan kedua tanganku.

           “Ha..ha..kamu tahu gak? Kalau misalnya aku tak menyirami kamu dengan air, orang lain pasti berpikir kamu mirip orang gila. Ha..ha..” tawanya lagi, menertawakanku. Ia pun menurunkan selang itu. Sebenarnya, ia kasihan melihatku basah kuyup seperti itu. Tapi, itu salahku sendiri sih, joget-joget sendiri kayak orang gila.

            Aku pun menatapnya. Tajam. Penuh rasa sebal, dendam. Aku siap membalas perbuatan itu. Ku rampas selang yang ada digenggamannya. Napasku memburu. Kuayunkan selang itu, siap membalasnya.

            Cur…cur... air bagai air mancur itu menguncur padanya, membasuh bajunya, mengalir disela-sela badannya lalu turun kekakinya, membasahi wajahnya yang bercahaya itu. Ha..ha.. aku puas sekali. Tertawa senang. Saat senang. Rey terdiam sejenak kemudian tertawa. Tertawa sangat manis dan bahagia.

            Akhirnya pun, kami jahil satu sama lain mengambil selang lalu mengarahkan membasahi satu sama lain. Sangat jahil. Tawa buncah. Mekar. Memenuhi hari itu dengan tawa. Tawa indah, senang, menyenangkan, gembira. Bahkan beberapa hewan lain disekitar kami juga jahil melirik kami, saling berbisik, tersenyum kecil, melihat kami berdua. Berdua sangat terlihat lekat, seperti tak dapat dipisahkan satu sama lain. Lebih-lebih, setiap orang yang melihat kami tersenyum bahagia.

            Beberapa bunga indah lagi bermekaran, bermekaran ikut juga senang. Parade kupu-kupu indah memenuhi taman bunga kecil. Berputar-putar diatas kami, berpilin, membentuk sebuah bentuk lekukan indah. Yang sangat dikenal oleh seluruh orang didunia. Sebuah Lekukan CINTA. Angsa-angsa berseru indah, melilit lehernya, lagi-lagi membentuk lekukan indah itu. Asik lagi sengaja melirik kami yang tertawa senang. Bunga-bunga kecil tumbuh mekar dipohon menggelayut, membentuk lekukan indah itu lagi. Dan sekali lagi, awan indah, yang cerah diatas kami, bersemu merah, mengalur membentuk lengkukan indah itu. Berpadu menakjubkan dengan beberapa burung mengitarinya, bebas.

            Eh, ada yang aneh. Siapa dia? Siapa? Siapa yang duduk menggantung kakinya diatas awan yang bersemu merah itu? Siapa? Apa gerangannya? Mengapa ia memegang sebuah panah? Dan mengapa ia juga memegang busurnya ditangan lainnya? 2 busur. Busur yang indah. Terukir dengan indah pula. Apa yang akan ia lakukan?

            Buys… 2 busur itu melesat cepat setelah lepas dari induknya. Melepas cepat. Berpilin sebentar, berputar, mengitari, mengarah, terus melesat dengan cepat lagi. Menyisakan butiran debu merah muda disetiap alurnya. Sehingga, butiran debu merah muda itu menyusun sebuah lengkukan indah pula. Lengkungan indah itu.
Syar..tepat sasaran. Sangat tepat. Menancap. Bersemi dihati kedua jodoh sasaran itu.

           Dunia tiba-tiba berhenti. Waktu mendadak berhenti pula. Ketiga jarumnya berhenti di tempat. Seluruh dunia senyap. Sunyi. Semua penghuni dunia tersapu. Menghilang. Terhempas. Dunia mendadak melebar. Meluas. Merubah backgroundnya dengan kebun Ilalang orange yang indah. Tapi, tetap saja semuanya sunyi. Masih senyap.

Menyisakan kedua pasangan sasaran itu.

           Aku tak tahu apa yang terjadi? Mengapa semuanya mendadak diam? Mengapa? Mengapa kejadian malam tadi terjadi kedua kalinya? Dunia berhenti berputar, semuanya sepi, tak ada satu pun disekitarku, kecuali Dia. Lagi-lagi. Aku menatapnya dalam-dalam. Tapi, kali ini mukaku tak bersemu merah. Entah? Aku membiarkan Dia juga menatapku, menatap wajahku, menatap mataku, memandangku dari beberapa jengkal dariku. Dia tetap menatapku. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan.

Dia melangkah sejengkal mendekatku.

          Mendadak, jantungku berdegup kencang, berpacu cepat, tak karuan. Dan sudah kuduga, mukaku bersemu merah, lebih merah, lebih bersemu. Aku menggigit bibirku.

Dia melangkah sejengkal lagi.

          Jantungku makin bercepat berpacu, berdegup sangat kencang, lagi-lagi lebih tak karuan, membuat tubuhku gemetar seketika. Tanganku bergetar, sehingga keringat dingin itu keluar mengaliri membasahi telapak tanganku. Mukaku bertambah merah, macam tomat busuk, pipiku menggembung, bibirku sampai kesakitan karena aku terlalu kuat menggigitnya. Kejadian ini sekali lagi telah terjadi untuk kedua kalinya. Tapi, apakah akhirnya kan sama?

Dia melangkah sejengkal lagi. Sejengkal lagi mungkin ia akan berada tepat dibayangan mataku.

Entah? Aku tak dapat lagi, melukis keadaan yang terjadi padaku. Intinya, semuanya kebanyakan getar, cepat, kencang, gugup, gemetar, basah dan lainnya.

          Entah mengapa lagi? Entah? Mengapa dikeadaan seperti ini, yang sepertinya aku bisa mati gila tetap menatapnya? Ia tersenyum. Iya, benar tersenyum. Aku tak bohong. Ia menyunggingkan bibirnya. Sehingga, lesung pipi meronanya terbentuk. Bibirnya agak terbuka, sehingga, gigi putihnya agak terlihat. Membuat bingkai wajah itu bertambah manis.

Sangat manis.

          Aduh, kemungkinan jika ia tak menghentikan senyuman manis itu aku benar-benar akan mati. Akan mati gila karenanya. Ah, apa yang harus kulakukan? Aku tak tahan.

          Dan saat kejadian romantis itu, saat seluruh dunia senyap seketika, saat ilalang background ilusi itu mengalun lembut, saat angin menderu bersimfoni, saat awan kian memerah, saat penembak busur itu tertawa senang kemudian terdiam tersenyum melirik menatap sasarannya, saat itulah semuanya kejadian romantis itu tersapu, terhapus, menghilang, tak tersisa, hanya pahit.

           Ketika Dia akan melangkah kakinya mendekat membayang dimataku sesenti dariku, gadis itu datang, gadis menyebalkan itu datang tidak pada waktunya. Membuyarkan ilusi indah itu. Menghempaskan lekukan indah itu, juga taburannya. Penembak busur itu melenguh kesal, terbang ke angkasa dengan wajah yang sebal. Sebal dengan gadis menyebalkan itu yang telah menggagalkan rencana indahnya.

Aku menoleh kearah gadis menyebalkan itu. Tersenyum masam. Menelan ludah pahit.

Dia tak menoleh kekekasihnya itu. Diam terpaku.

          “Sayang..” goda gadis itu. Merujuk manja memeluk lengannya. Kemudian dengan sengaja memeluk Rey didepanku, dihadapanku, didepan mataku. Gadis itu sengaja membuatku iri padanya. Gadis itu pasti tahu kalau aku menyukai Rey. Memeluk Rey erat-erat, memamerkannya padaku.

Aku menelan ludah pahit. Sangat pahit. Kali ini, aku pasti bisa mati karenanya. Karena aku terlalu cemburu melihatnya berpelukan dengan cewek lain. Ah, sakit sekali.

Rey tetap diam. Tapi, ia mencoba tersenyum. Tersenyum getir.

“Sayang, hari ini kita jalan-jalan kemall kan. Sayang janji kan, membelikanku kalung. Kalau begitu, ayo cepat.” Rujuk gadis itu lagi manja.

Ah, entahlah? Sepertinya, hatiku telah berdarah-darah tercabik-cabik. Tercabik-cabik oleh perkataan itu. ‘Sayang.’ Padahal, dulu tiga tahun lalu, aku yang bermimpi ingin mengucapkan kata manja itu pada Dia. Sekarang, aku harus menelan kenyataan pahit ini. Menelan kata-kata itu mentah-mentah.

Mereka pun melangkah pergi. Pergi meninggalkanku. Yang menelan pahit semua kenyataan ini. Membiarkan aku hanya menghayal-hayal keinginan kosong. Meninggalkan aku dengan kesendirianku. Meninggalkanku hanya dengan selang itu, yang masih saja mengalir air pelan keluar darinya, tergeletak. Yang lebih menyakitkan, meninggalkanku dengan hati yang berdarah-darah beribu tercabik. Uh….

Gadis menyebalkan itu sengaja lagi melirik kearahku. Menatapku sinis. Tersenyum prihatin. Bukan prihatin melihat aku patah hati. Tapi, prihatin karena aku kurang cantik sehingga Rey tidak menyukaiku.
Aku menatap kepergian mereka. Mencoba bertahan untuk tetap menunggu. Tetap menunggu Rey sadar, kalau Dia itu hanya milikku. Aku akan tetap menunggu meski semuanya akan berjalan pahit. Menunggu hingga Rey sadar.

Ternyata, akhir kejadian ini sama untuk kedua kalinya lagi. Ah,,,


If you could see That I'm the one 

Who understands you 

Been here all along So why can't you see 

You Belong With Me, 

You Belong With Me?

? ? ?


       



Kamis, 12 September 2013

Midnight Sun

Matahari tengah malam atau midnight sun adalah fenomena alam yang terjadi pada bulan-bulan musim panas (summer) di lintang utara dekat Lingkaran Arktik (kutub utara) dimana matahari masih terlihat di tengah malam pada waktu lokal apabila cuaca cerah

Pada bulan Mei banyak sekali turis Asia, Eropa Tengah akan berkunjung ke ujung utara bumi itu untuk menyaksikan fenomena alam tersebut. Salah satu kota tujuan untuk wisata ‘Midnight Sun’ itu adalah Tromso, Bodo, Hammerfest dan Nordkapp. 

Tromso adalah kota besar terakhir sebelum memasuki kawasan lingkaran kutub utara. Kota ini terletak 69°40′ Lintang Utara, dan hanya berjarak 350 km dari situ. Pada setiap bulan Mei, matahari akan tenggelam dan langsung terbit di cakrwala kota Tromso. Nah turis-turis mancanegara biasanya berdatangan pada bulan bulan ini.



Negara yang bisa merasakan fenomena ini antara lain: Kanada, AS, Denmark (Greenland), Norwegia, Swedia, Finlandia, Rusia dan Islandia. Seperempat wilayah Finlandia berada di bagian utara lingkaran Arktik. 

Di daerah Svalbard, Norwegia, kita tidak akan bisa melihat sunset alias matahari terbit mulai tanggal 19 April sampai tanggal 23 Agustus. Bayangkan ketika kalian bangun pagi ternyata langit masih gelap.



Kebalikan dari fenomena ini disebut polar night, terjadi saat musim dingin ketika matahari tetap berada di bawah horizon (ufuk) sepanjang hari. Bahkan ekstrimnya di beberapa daerah di kutub, matahari akan terus nampak selama 6 bulan. 



Durasi midnight sun akan meningkat dari hari ke hari selama titik balik matahari pada musim panas di lingkaran kutub kemudian akan mencapai 6 bulan pada kutub.



Di daerah kutub itu sendiri, matahari hanya terbit dan terbenam sekali dalam setahun. Selama 6 bulan ketika matahari berada di atas ufuk, matahari akan terus bergerak di sekitar ufuk, dan mencapai ketinggian tertinggi saat titik balik matahari pada saat musim panas.



Bagi para pelancong yang mau melihat midnight sun di Norwegia, anda bisa datang ke daerah-daerah di bawah ini:

1. Longyerbyen (Spitzbergen): Apr 20 – Aug 20

2. North Cape (Nordkapp): May 14 - July 30

3. Hammerfest: May 16 - July 27

4. Tromsø/Tromso, Hausberg: May 20 - July 22

5. Narvik, Hausberg: May 25 - July 18

6. Lofoten & Vesterålen: Late May - Mid July

7. Bodø/Bodo: July 4 - July

sumber:
www.apakabardunia.com

Fakta Unik Seputar Minion



Fakta Unik Seputar Minion Tokoh Imut Film Despicable Me - Despicable Me. Film yang dibuat di bawah naungan perusahaan Universal Pictures dan Illumination Entertainment ini mengundang perhatian para pecinta film tanpa mengenal usia.

Film yang bercerita tentang seorang pencuri super jahat bernama Gru yang hidupnya akhirnya beralih dari kejahatan karena mengadopsi anak-anak yatim piatu yang bernama Margo , Edith , dan Agnes. Film ini mengundang gelak tawa dari para penikmatnya, terlebih karena adanya makhluk-makhluk berwarna kuning ciptaan Gru untuk membantu segala pekerjaannya yang tidak jarang menghibur penonton karena tingkah-tingkah konyol mereka. Minion. Tokoh ini seakan menarik perhatian para penikmat film baik Despicable Me maupun sequelnya Despicable Me 2. Namun tahukah anda fakta-fakta unik dibalik kelucuan dari Minion-Minion tersebut ? Langsung saja berikut ini adalah fakta unik seputar Minion:

1. Pengisi Suara Minion

Fakta Unik Seputar Minion Tokoh Imut Film Despicable Me
Pengisi suara dari makhluk-makhluk lucu ini adalah Pierre Coffin, sang sutradara. Ia mengaku bahwa ide itu awalnya hanya iseng coba-coba saja. Namun ternyata Chris Meledandri selaku produser menyetujui idenya. "Saya membuat contoh suara. Tak bermaksud apa-apa, hanya untuk coba-coba saja. Tapi ketika Chris selesai mendengarkannya dia berkata: baiklah, kamu akan mengisi suara Minion", ceritanya.

2. Referensi Bahasa Minion

Fakta Unik Seputar Minion Tokoh Imut Film Despicable Me

Bahasa yang dipakai Minion didapatkan dari banyak referensi bahasa. Pierre Coffin memilih referensi bahasa dari kata kerja dalam bahasa India, Perancis, Inggris, Spanyol dan Italia. Partner kerja Coffin, Chris Renaud yang juga mengisi suara Minion menambahkan referensi dari nama makanan. "Ada banyak referensi nama makanan. Contohnya 'Poulet Tiki Masala' bahasa Perancis untuk masakan ayam India," terang Renaud.

3. Minion Jahat

Fakta Unik Seputar Minion Tokoh Imut Film Despicable Me
Tokoh baru berupa Minion jahat baru muncul   dalam film Despicable Me 2. Minion-minion jahat ini tercipta karena suntikan serum oleh penjahat lainnya, El Macho kepada para Minion milik Gru. Alhasil, para Minion yang awalnya terlihat lucu dan imut tersebut berubah menjadi sebuah monster Minion yang memiliki perbedaan dari Minion biasa, yaitu:
1. Warna: Minion baik berwarna kuning, sedang yang jahat berubah menjadi ungu.
2. Kepala: Minion baik cenderung botak, sedang Minion jahat memiliki rambut acak-acakan di kepalanya.
3. Gigi: Minion baik bergigi rata, sedang Minion jahat bergigi runcing dan tidak rata.


4.  Minion Jahat Terinspirasi Dari Looney Tones

Fakta Unik Seputar Minion Tokoh Imut Film Despicable Me
Pierre Coffin bercerita tentang asal mulanya inspirasi membuat Minion Jahat dalam film Despicable Me 2. "Dalam Looney Tunes klasik ada tokoh burung lucu bernama Tweety. Tanpa sengaja ia meminum formula Jekyll dan Hyde sehingga berubah menjadi raksasa berbulu. Lucu rasanya membuat mereka menjadi jahat karena tidak benar-benar jahat," begitulah ungkapnya. Jadi ia membuat minion yang awalnya lucu menjadi sebuah monster Minion yang mengerikan.

5. Minion Akan Dibuatkan Film Sendiri 

Fakta Unik Seputar Minion Tokoh Imut Film Despicable Me
Kisah para Minion akan dikembangkan dalam spin off-nya bertajuk MINIONS. Film yang dibesut oleh Pierre Coffin dengan Kyle Balda tersebut bakal rilis pada 19 Desember 2014. Dikabarkan, Sandra Bullock dan Jon Hamm akan terlibat dalam departemen pengisi suara.

Jadi tunggu aja ya guys buat para Minion Lovers yang udah ngoleksi semua hal-hal berbau Minion. Mungkin dengan film MINIONS ini, Minion akan semakin booming dan bisa disejajarin dengan tokoh-tokoh cartoon yang sudah mendahuluinya.



Rabu, 11 September 2013

You Belong With Me (Love story)

Part 1

Mentari tertidur lelap dipusara. Gelap datang membayang. Rembulan dengan sombongnya berpose, menggelayut diangkasa. Selarik dualarik cahayanya menggaris jatuh menghiasi kota. Jutaan paradoks bintang berkelap-kelip melukis angkasa dengan rasi-rasi, berjajar, berbaris, merangkai sesuatu. Sesuatu yang tak akan pernah diketahui. Sesuatu yang amat rahasia. Angin dingin berlari menerabas dedaunan, kayu-kayu usang,mengalun mengalir mengikuti orkestra malam, terus mengalir pelan, rendah, indah, tenang. Belum..belum berhenti. Terus mengalir, hingga memasuki jendela kamarku, menghantam wajahku, menusuk sarafku. Dingin.

“Fiuh..”kuraih jaket hangat disampingku, lalu kukenakan. Bernafas tertahan, mencoba tetap bertahan disini, didepan jendela. Menunggu, berharap ia segera pulang dari kencannya dengan cewek itu, berharap ia segera membuka jendelanya menyapaku kemudian menghiburku malam ini(kos-kosanku dengan kos-kosannya bersampingan, kamar kami juga berhadapan). Sejak tadi, sejak matahari menampakkan batang hidungnya, sejak 15 jam yang lalu, sejak alarm kucingku berdentang 100 kali, sejak itu aku mulai kesepian. Entah mengapa Hari ini sangat sunyi? Padahal jutaan mesin beruap itu berbunyi berisik setiap detikan waktu, hari, bulan. Tak berhenti. Bukan, bukan hariku yang sunyi tapi hatiku, tepatnya.

  Kulirik jam weker dimeja belajarku. Ketiga jarumnya menunjukan pukul 20.30 malam.

“Uh..dia belum pulang juga.”keluhku.
Pikiranku, melayang, terbang, berputar, berputar, memikirkan Dia. Apa yang dia lakukan dimalam kencannya ini? Apakah ia bahagia? Tentu saja. Apakah saat ini ia sedang menyuapi pacarnya itu? Atau bahkan mencium tangannya, atau mungkin mengecup pipinya?

“Ah..”diusap wajahnya dengan telapak tangannya,mencoba menghilangkan pikiran itu. Ia benci, sangat benci memikirkannya, lebih tepatnya sebal dengan gadis itu bukan sama Dia.

Sudah lama, mungkin sudah selama 3 tahun, aku dan Dia berteman sangat dekat, sangat lekat, bahkan rumah kos-kosanku berdekatan, kuliah sama, kelas sama, hobi sama, umur sama, mungkin persamaannya tigaperempat lebih banyak dibanding perbedaannya. Namun sayang, hingga detik ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku padanya, entah ia mempunyai perasaan yang sama atau tidak? Setahuku, Dia orangnya mudah jatuh cinta diam-diam, diam-diam pula menembaknya.

Aku sangat sedih saat aku tahu ia telah berpacaran dengan seorang gadis, padahal saat itu aku ingin mengutarakan perasaanku yang telah kupendam selama ratusan hari. Rasanya sakit, tentu saja, wajar-wajar saja orang yang cinta bertepuk sebelah tangan seperti aku ini merasakan sakit. Masalahnya, itu mengganggu konsentrasi belajarku, membuatku melamun, tersenyum, melamun lagi kemudian menangis. Hal itulah yang menjadi tidak wajar.

“Uh..” bernapas lenguh, uap air keluar dari mulutku bergelung diudara.

1 jam berlalu..

     Sebenarnya, aku ingin sekali mengungkapkan perasaan itu sejak perasaan itu hadir dalam hidupku lewat Dia. Yang jadi penghalangnya, adalah ketakutanku sendiri. Aku takut kalau ternyata ia tidak mencintaiku saat aku mengungkapkannya maka pasti akan membuat persahabatanku dengannya hancur. Atau mungkin banyak hal buruk yang kemungkinan terjadi. Seorang gadis yang berteman amat akrab dengan seorang cowok, lalu gadis itu mengungkapkan perasaannya dan ternyata cowok itu memilih bersahabat pasti akan membuat gadis itu merasa bersalah, menyesal, kecewa, patah hati, maka ia pun salah tingkah saat berdekatan dengan teman cowoknya itu. Gadis itu tak menganggap lagi cowok itu teman akrabnya melainkan cowok asing yang sedang dikaguminya.

4200 detik kemudian,

     Aku tak tahu sampai kapan kupendam perasaan ini? Aku tak tahu akan bertahan berapa lama? Aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan? Aku benar-benar tak tahu.
“Puk…” tepukan kecil merambah rambutku. Membuatku kaget. Aku pun menoleh.
“Aduh..Kheysa, kenapa malam-malam begini belum tidur? Angin malam buat cewek cantik kayak kamu ini gak baik. Siapa tahu besok, kamu bakal mirip kayak mumi, dibaluti kain gombal. Ha..ha..” tertawa kecil menatapku.

Aku tersenyum getir juga tersipu merah mendengar celotehnya menyebut kata itu. ‘cewek cantik’. Oh iya, aku pun sadar, sejak kapan ia sudah nongol duduk disampingku(duduk diatas jendela). “Kau sudah disini dari tadi?” tanyaku pelan. Dia pun mengangguk.
“Kok aku tidak tahu?” dengan kening berkerut.
“Kamu sih, asik melamun sendiri. Emang mikir apa sih?”
“E..eh, enggak kok. Gak mikir apa-apa.” Jawabku terbata-bata. Takut ketahuan.
“Sudah sana, tidur. Awas kamu kalau aku masih melihat kamu masih melamun disini. Belum tidur juga. Aku akan berubah menjadi monster yang akan menakuti kamu. Ho..ho..Eh, monster suaranya kayak sinterklas ya, ha..ha..” tawanya lagi.

Ah, seandainya saja engkau tahu, kau sangat manis sekali saat tertawa, deretan putih gigi itu, bibir merah merona, matanya yang coklat redup, guratan garis wajah yang sempurna, alis hitamnya yang berderet, dan Ah, PERFECTO.

Aku hanya tersenyum masam. Dengan gelak tawanya yang seperti ini, cukup memberitahuku kalau ia pasti sangat gembira dengan malam kencannya. Pasti. Aku menelan ludah pahit.

Tiba-tiba, Dia terdiam. Menoleh kemudian menatapku, memandangku. Lama sekali. Aku gugup. Tanganku gemetar ditambah lagi keringat dingin yang keluar membasahi telapakku. Suara kerikan jangkrik diam begitu saja, kodok malah ikut-ikutan, membuat suasana bertambah sunyi. Semuanya benar terasa sunyi, waktu terasa berhenti, semua bunyi senyap seketika. Membiarkan aku terbunuh oleh tatapan itu. Tetap tak bergerak. Ia masih menatapku dalam-dalam. Aku juga menatapnya tapi aku tak sanggup bergerak sedikitpun. Gemetar seluruh tubuhku gemetar. Keringat dingin yang keluar makin membuat telapak tanganku basah kedinginan. Tatapan itu membunuhku, menghunjam panah-panahnya kearahku.

Belum..belum masih lama ia menatapku. Akhirnya..

     Dia mengangkat tangannya, lalu apa yang terjadi? Menggenggam tanganku. Hangat.
“Kau sakit. Tanganmu dingin sekali, sebaiknya kau segera tidur.” Katanya dengan nada penuh perhatian. Aku tak membalas.

Ia pergi. Pergi melangkah meninggalkanku. Meninggalkanku sendiri disini. Ditemani kesunyian. Sangat kesepian. Menggigit bibirku, sakit. Iya aku mencoba agar tidak menangis melihat ia melangkah pergi. Dengan menggigit bibir. Tetap saja. Butiran bening itu sudah berlayar membasahi bingkai wajahku. Tak sanggup ku hentikan. Tak sanggup.

Dreaming about the day
when you wake up and find .
That what you're
looking for has been here the whole time.

sss

     


   

    

Selasa, 10 September 2013

Restoran Bertema Kloset



Berbagai cara dilakukan pengusaha kuliner untuk menarik pengunjung menyantap hidangan di restorannya. Selain menu makanan lezat dan unik, mereka juga mengandalkan suasana unik, bahkan tak jarang menantang. Seperti restoran ‘Modern Toilet’ di Taiwan. Sesuai namanya, rumah makan ini menawarkan sensasi bersantap dalam suasana toilet. Mulai dari interior ruangan, perabot saji, hingga penamaan menu. Interior ruangan didesain menyerupai toilet massal. Meja makan berupa bak mandi (bath-up) yang ditutup kaca bening. Kursi berbentuk closet duduk. “Ini hanya untuk membangun kesan, saya jamin semua makanan kami bersih dan sehat,” kata manajer Toilet Modern Chen Min-kuang, kepada Time.


Sementara perabot saji terdiri dari beragam bentuk. Mulai mangkok berbentuk closet jongkok, piring berbentuk tutup closet, gelas berbetuk urinoir, hingga mangkok sup berbentuk closet duduk. Demi memperkuat kesan menjijikkan, restoran itu sengaja menampilkan penamaan menu yang membuat perut bergolak.



Sebut saja, diarrhea with dried droppings (cokelat), bloody poop (strawberry), green dysentery (kiwi). Bahkan, mereka juga menawarkan es krim berbentuk gumpalan kotoran manusia. Pemiliknya adalah Wang Zi Wei, seorang eks-bankir asal Taiwan. Ia mendapat ide gila itu setelah menonton film kartun robot Jepang ‘Jichiwawa’, di mana tokoh di film itu sangat suka bermain kotoran. Setelah membuka ‘Toilet Modern’ pada 2004, bisnisnya terus berkembang. Ia kemudian melakukan ekspansi ke sejumlah kota di Taiwan. Bahkan, restorannya kini bisa ditemui di China dan sejumlah negara di Asia.

# Mimpiku (part 3) #

Kubuka korden jendela disisi ruang mawarku, tempat aku masih dirawat dirumah sakit ini. Sudah 3 hari aku dirawat, rasanya pingin banget keluar jalan-jalan menyusuri jalan-jalan kecil yang ada didesaku. Tapi, ibu pasti melarangku.

Uh…tinggal di rumah sakit sangat membosankan. Makanannya tidak enak, Tidak ada hiburan, bau khasnya selalu membuat aku mual, apalagi tak ada seorang yang sebaya denganku untuk ku ajak bermain. Seandainya saja, ada seseorang yang dapat menghiburku dikurungan menyebalkan ini. Menyanyikan sebuah lagu untukku, mengajakku main tebak-tebakan, bahkan tempat untuk aku bercurhat. Ah…pasti seru!!

“Tok…tok…” sebuah ketukan pintu mengagetkanku. Aneh, mengherankan, siapa sih pagi-pagi begini menjengukku? Perasaan, akhir-akhir ini tak ada satupun yang menjengukku kecuali sahabat karibku, saudara orangtuaku rumahnya jauh semua. Jadi penasaran nih, siapa ya? Kutatap pintu putih tebal itu yang dibaliknya ada seseorang yang misterius itu, kutunggu-tunggu hingga ia masuk. Akhirnya, ibu membukakan pintu untuk tamu istimewa itu.

Tamu itu langsung memberikan sapaan hangat, ia menggenggam setangkai bunga dan tangan satunya membawa separsel buah-buahan. Kalau dibilang sih, ia mirip seorang model. Pasti ia sangat menyukai fashion atau seni. Ia memadukan baju polos putih tertutup baju kotak-kotak merah dan dilepas kancingnya, sehingga baju putihnya agak kelihatan juga memakai celana jeans coklat bersepatu hitam. Tidak lupa, ia memakai kaca mata hitam menutupi matanya yang teduh nan ramah. Rambutnya dibedirikan dan belakangnya diluruskan. Kalau cowok seperti inilah, yang diidamkan ribuan cewek. Sangat elegan. Tapi…bagi Rara entahlah. Saat cowok itu melangkah masuk…

“Apa!!” seruku melihat dia berdiri mematung didepan pintu karena mendengar teriakanku. Ibu melihat kearahku tak mengerti serta bingung, kenapa Rara tiba-tiba berteriak seperti itu kayak melihat hantu saja? Mengapa sih hidup itu menyebalkan dan selalu tidak adil? Aku kan berharap seseorang datang dalam hidupku untuk menghiburku bukannya malah membuat hidupku makin membosankan saja. Apakah ia kira dengan membawa sekuntum bunga dan separsel buah-buahan plus akting sok ramah dan sok baik itu dapat membuat aku memaafkannya?

“ Aku masih sebel banget sama kelakuaannya yang tidak tahu sopan santun itu beberapa hari yang lalu. Benar-benar tak tahu sopan santun. Sudah tahu, dendam sebel karena sikapnya itu dan berharap tak bertemu lagi, eh…tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan malah nongol menampang muka sok alim, kayak gak punya salah aja. Rasa sebelku ini sudah menjadi-jadi.

Tanganku ini sudah gatal, mukaku telah merah membara, muak sekali melihat tampangnya itu. Langsung, kulangkahkan kakiku mendekatinya dan tanpa kata sedikitpun kutarik ia keluar dari ruanganku, meninggalkannya diluar, membanting pintu itu tak berperasaan, menjauhkanku dari wajahnya yang terlihat sangat dungu atas tingkahku tadi. Meskipun begitu, sisa-sisa dihatiku yang tadi hampir habis terbakar masih menyala.

Ibu menatap Rara bagaikan seorang macan yang siap menyerang, sangat tajam dan menakutkan. Ia menganggap kalau Rara yang dilihatnya kini bukan Rara anaknya melainkan seorang jin yang merasuki tubuhnya, bertingkah laku seperti seekor hewan. Terlihat jelas ibu sangat marah dan sedih melihat tingkah laku Rara, kecewa dirinya, sia-sia semua perjuangannya membesarkan Rara hingga titik darah penghabisan, hasilnya Rara bertingkah laku mirip seekor hewan atau mungkin seperti setan.

“Apa yang kau lakukan Rara? Apakah kau tidak berpikir untuk menghormati setiap orang yang dengan tulus menjengukmu.” Bentak ibu padaku, darahnya mendidih, uap-uapnya telah meletup-letup. “Ibu cowok seperti itu tak perlu dikasihani, dulu dia itu menubrukku tanpa minta maaf sebelum aku masuk kerumah sakit karena penyakit ini.” Jelasku beralasan. “Apakah kau tau siapa yang membawamu kesini saat kau terbaring dibus dan tak seorangpun memedulikanmu?” kata ibu bijak membuat aku diam seribu kata, mendengar perkataan itu, hatiku jadi bertanya-tanya dan terasa tak percaya. Mana mungkin. Mana mungkin yang ternyata menolongku itu cowok kurang ajar itu? tidak mungkin. 

“Ibu bercanda kan?” tanyaku meyakinkan kalau itu tidak benar. “Kalau kau sayang sama ibumu ini, maka kamu juga harus sayang sama orang yang telah menyelamatkan hidupmu.” Katanya dengan nada tinggi. Benarkah itu? Benarkah kata-kata yang telah diucapkan ibuku tercinta ini? Benarkah semua ini? Apakah aku telah salah? Apakah aku telah membentak ibukku dan membuatnya marah seperti ini? Ini salahku. Aku telah membuat ibukku marah karena telah bersikap kasar sama cowok yang menyelamatkan hidupku. Benarkah dia penyelamat hidupku, malaikat penolongku? Benarkah? Benarkah?

- - -

“Uh…salahku.” Gerutu seorang cowok dibalik pintu. Ia tak mengerti kedatangannya untuk menjenguk cewek yang telah ditubruknya dulu ternyata tak diharapkan. Malahan, ia telah menimbulkan pertengkaran antara cewek itu dengan ibunya. Cewek itu pasti masih tak menerima perlakuan atas dirinya. Ah…ternyata niat baik cowok tampan ini tak diterima. Dengan terpaksa, cowok itu melangkah pergi. Melangkah dengan membawa rasa bersalah yang amat sangat. Daripada nantinya, pertengkaran kedua wanita yang baru dikenalnya itu malah makin menjadi.

 “Um…nak, tunggu sebentar! Jangan pergi dulu!” teriak seorang paruh baya yang dikenalnya itu berlari terseok-seok kepada cowok itu yang berjarak beberapa meter darinya. Ia pun menoleh. Dengan penuh hormat, cowok itu membungkuk rendah pada paruh baya yang telah berada didepannya dan terlihat ia sangat kelelahan. Terlihat disana, Rara melongok dari balik pintu dengan wajahnya yang seperti cabe busuk plus asap yang menguap dari balik matanya yang tajam. Ia melihat kejadian ini dengan jelas. Bumbu rasa kesalnya sudah bertabur. “Jangan pergi dulu! Sebenarnya, kami sangat senang atas kunjunganmu menjenguk anakku tadi. Tapi, karena kelakuan anakku, Rara yang tidak tahu malu itu telah membuatmu kesal. Aku mohon tolong dimaafkan.” Kata ibu itu tulus memohon maaf padanya.

Cowok itu terasa canggung dengan tingkah ibu paruh baya itu. “Ibu… Ibu tidak perlu melakukan hal ini. Sebenarnya, anak ibu itu…Um…Rara… itu tidak bersalah, yang salah itu aku. Jadi, maksud kedatanganku kesini itu untuk meminta maaf kepadanya.” Katanya pelan sambil memegang kedua sisi pundak ibu itu agar menyamakan tingginya dengan tinggi ibu itu yang ternyata lebih pendek darinya. “Kalau begitu, bisakah kau menemui dulu Rara mungkin kau perlu berkenalan dengannya atau perlu hibur dia, ia pasti kesepian sekali selama ia dirawat.” Sahutnya dengan nafas mengeluh panjang. Cowok itu hanya mengangguk ringan tanpa mengurangi rasa hormatnya pada ibu paruh baya itu.

- - -

Aku menatap tajam cowok berbaju kotak-kotak merah itu dibalik lengkupan selimutku. Bayangan siluet wajahnya yang sok ramah pada ibuku itu terpapar jelas menghalaui lubang-lubang kecil rajutan yang tengah mengkukungku. Uh, sok ramah, sok manis dan sok baik. Menyebalkan. Tak ada kata darinya, menoleh sedikitpun padaku saja tidak. Ia lebih memilih sifat menunggu dan menunggu. Mungkin ia berpikir, ‘Akan adanya nanti waktu yang sangat tepat’. Tingkah duduknya itu yang menurutku terlalu sok sopan, ia tak duduk disofa itu dengan bersila ataupun menaikkan salah satu kakinya, melainkan dengan sikap yang memang santun, sambil menggenggam kedua belah tangannya, mengepal diatas pahanya, dan yang membuatku bertambah sebel, ia melirikkan bola matanya mengikuti langkah ibuku yang seperti setrika kepanasan dengan senyuman hangat tak habis-habisnya.

“Rara, ibu pergi keluar sebentar. Kamu disini saja bersama Fo.” Aku pun tersentak, meloncat dari persembunyianku. “Tidak…aku tidak mau…aku ikut.” Bantahku serta merta, tak memedulikan cowok pemilik nama Fo itu tersenyum masam. “Rara…” sahut ibuku memasang pandangan tajam menikam, membunuh segala bantahan bodohku, tak sadar telah berhadapan dengan siapa. Aku kenal tatapan aku. Mungkin tadi, ia dapat menahan kemarahannya tapi untuk kali ini, aku lebih memilih mengalah. Aku pun tersenyum masam, pandanganku jatuh, meringkuk, aku tak dapat bersembunyi lagi, selimut itu tak cukup menyembunyikan semua perasaanku, kalau aku takut untuk… Cowok itu tersenyum manis. 

- - -

Ia menang. “Bruk…” penghakiman yang sangat tidak adil. Kenapa aku yang harus jadi terdakwa? Sekali lagi, pintu itu benar-benar tidak adil.
Sejak aku mengenal nama misterius itu, semuanya terasa berubah. Aku tidak mengerti apa makna dari hanya 2 kata yang tersirat itu. Mungkin, kalau aku tidak malu membalas senyum hangatnya itu aku pasti telah menanyakannya. Tapi, sepertinya aku tak sanggup. Dia adalah orang yang telah mengenalkanku arti kebahagiaan sebenarnya, arti kasih sayang sebenarnya, arti persahabatan sebenarnya, bahkan mengajariku untuk mencintai. Semuanya terasa menyenangkan bersamanya. Ketika, kita mengenalnya, maka kita pasti ingin mengetahui, skenario apa dibalik senyuman hangat itu sehingga ia memiliki segala keistimewaan itu. 

Aku kagum padanya. Atas segala argumennya tentang hidup ini. Seharusnya, kau tak berpikir pelangi itu selalu indah, ia harus berusaha untuk dapat bersinar dibalik badai yang mengepung. Begitu juga dengan Dia, Dia telah berusaha bersinar dibalik skenario yang ternyata, badai yang mengiring perjalanannya. Berusaha untuk bersinar terus bersinar berusaha bersinar meski semua terasa tak adil. Dia tetap bersinar walaupun hanya sementara. Sebagai Oscar penghargaan kemenangan itu, Tuhan telah menganugerahkannya senyuman hangat yang tak kan pernah luntur. Sejak aku mengetahui hal itu, semua rahasia dibalik senyuman hangat itu.
Aku pun tak sanggup menunjukan rasa kesedihanku jika sudah terbendung di bingkai wajahku, karena kini aku tahu cowok itu tak akan tega tersenyum hangat jika seseorang menangis tersedu di hadapannya. 

Entah karena apa? Entah sebab apa pula? Intinya, aku tak mau ia menghilangkan senyuman hangat itu gara-gara aku. Telah menyebabkan skenario yang kelam itu terputar kembali di pikirannya. Tentang seorang gadis kecil menangis terisak didalam pelukan hangat kakaknya, memandang seluruh kehidupan barunya yang kelam, Dan bidadari penolongnya pun telah pergi terbang ke angkasa. 

- - - 

“Prok…prok…” suara tepukan tangan bergemuruh memenuhi isi ruangan gedung itu. Begitu pula dengan kegembiraan juga kekecewaan mengepul tak menguap sedikit pun. Bukan karena undian hadiah yang ingin mereka dapatkan. Tapi… “Baiklah…para hadirin semua. Kita panggilkan untuk pemenang artikel yang mendapat juara 1.” Tepukan riuh itu pun berhenti sejenak.

Seluruh ruangan senyap seketika. Memasang telinganya masing-masing. Tak ingin kesempatan terakhir untuk memenangkan kejuaraan artikel remaja ini dari puluhan remaja yang mengikuti terbuang percuma, hanya karena salah mendengar kalau ternyata namanya dipanggil. Aku duduk gelisah di pojok ruangan. Tak sabar ingin mengetahui siapa kali ini yang mendapatkan rangking 1, setelah kesempatan emas ini tak turun-turun juga sebelumnya. “Siapa ya, kira-kira?” seru host acara itu, membuat seluruh peserta jadi penasaran semua. Amplop biru bercap percetakan kompas itu yang didalamnya terdapat secarik kertas yang menyimpan seluruh rahasia ini akhirnya terbuka. 

Seluruh hadirin melepas napas panjang, diam terpaku, menatap tajam diamplop itu serta gerakan host itu. “Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah pada pemenang beruntung ini. Rara Setyarani.” Teriak host itu membahana membuat seluruh pandangan mata terhujam padaku. Aku diam, semuanya terasa berhenti. Membiarkan jutaan mata itu tetap menhujamku. Aku tak menyangka kisah ini kan berpihak padaku. Aku menatap ibu yang berada disampingku. Bidadari berhati putih itu pun mengangguk pelan. Butiran mutiaraku mengalun pelan disela-sela wajahku. Jatuh mengembun di lantai ruangan itu. 

Aku tak kuasa menahan rasa haruku, ini semua terasa mimpi. Aku pun melangkah menuju panggung utama. “Selamat ya.” Kata seorang direktur itu sambil tersenyum kecut. Memberikan piala dan piagam penghargaan plus amplop kecil. Aku dapat melihatnya, ya melihat perasaan direktur itu saat berada satu langkah didepanku, ia membawa sejuta perasaan dungu, takut, ketidak percayaan, dan kemaluan yang luar biasa. Dipendam pahit sekali dihatinya. Aku masih ingat sekali kejadian bulan lalu saat ia membentakku karena ia menganggap artikel yang mendapat bintang emas ini hanya sebuah coretan anak kecil. “Ha…ha…” aku tertawa kecil.

Kupandang jelas seluruh isi ruangan itu. Seluruh peserta yang hanya melepas napas antusias. Begitu jugaa dengan kedua orang teristimewa itu. Bidadari baik hati itu dan cowok yang mengalungkan kamera memakai jaket hitam, iya, si pemilik senyuman hangat itu. Kulihat ibu menangis terharu diujung ruangan. Berkali-kali ia mengusap air matanya yang turun deras menghujani wajahnya yang redup dan lelah. Kebaikan hatinya juga pengorbanannya itu mencair bersama butiran suci itu.
Kulihat Fo yang berdiri gagah di depan pintu bersama reporter lainnya. Kupandang wajah pelangi itu, tak henti-hentinya ia memancarkan senyuman hangat, matanya terkesima menatapku. Tapi, ada yang aneh dengan…Apa itu? Benda apa itu yang berhasil mengarungi wajah pemilik senyuman hangat itu? membuat kedua tepi hidungnya basah seketika. Benarkah ia menangis? Tidak pernah sebelumnya aku melihat ia menangis seperti ini. Ya ampun, Fo. Kau memang pantas memiliki semuanya. “Jret…” sebuah jepretan kecil merekam seluruh kejadian itu Juga, kini skenario indah kan berputar mengarungi hidupku bersama bidadari baik hati dan wajah pelangi itu. Semuanya kan selalu bersemi seperti semuanya telah ditakdirkan sebelumnya.

Terlihat jauh disana! Beberapa manusia berwajah kusam nan sendu mencoba memelas pada orang yang melewati mereka. Anak kecil kumuh berlari-lari memanggil orang tua mereka yang mungkin saja tak memperdulikan nasibnya. Sahutan para pedagang asongan berkantong kosong itu bagaikan harapan kecil untuk diisi kembali. Jelas saja, saingan berat bagi mereka dihadapkan pada mall-mall dan toko besar. Embun dipelangi mataku telah bersenja kembali, tak ada kesedihan, bukankah begitu? Sayap rapuh dibalik fajar yang temaram tak akan bersemi kembali, meskipun kedua mahkotamu kan mengarungi istanaku. Kuharap. Lembaran-lembaran yang telah kusam kini tergantikan. Begitu juga tulisannya kan mulai rapi. Kini, taburan keceriaan kan selalu menyapa dalam setiap nafas pendekku ini. Setiap detik waktuku kan selalu bermakna. Kuharap untuk selamanya…selama-lamanya…kan slalu bermakna.

Senin, 09 September 2013

Teknologi Handphone Di Masa Depan

Dari waktu ke waktu teknologi ponsel selalu berkembang. Dari segi desain maupun fungsi telah banyak mengalami perkembangan sehingga perlu dilakukan eksplorasi yang lebih dari produsen guna menjawab tantangan waktu. Konsep handphone ramah lingkungan menjadi salah satu gagasan para pengembang untuk mengawali langkah menyambut teknologi handphone masa depan. Saat ini berbagai desain telah muncul sebagai gambaran teknologi handphone masa depan. Mungkin konsep-konsep mutakhir nan pintar ini terlihat aneh di waktu sekarang, namun bukan tidak mungkin di waktu yang akan datang bisa menjadi barang nyata dan hal yang lazim di zamannya. Bukankah di masa lalu kita tak pernah membayangkan sebuah gadget ponsel yang memiliki fitur layar sentuh sebagai navigasi? Dan waktupun menjawabnya. Saat ini, ponsel touchscreen bertebaran dimana-mana dengan hampir semua vendor terkenal ikut bermain di pasar ini. Bagaimana tampilan dan bentuk desain yang diproyeksikan untuk teknologi handphone masa depan tersebut? Mari sama-sama kita simak pembahasan singkat yang dikumpulkan dari berbagai sumber berikut ini : 

1.LEAF PHONE 


Leaf Phone atau dalam bahasa Indonesia berarti ponsel daun ini terlihat indah akan tetapi tidak mengurangi nilai fungsionalnya sebagai sebuah handphone. Berwujud seperti daun kembar yang dijadikan satu dengan pengikat khusus. Kita bisa meletakkan gadget ini di pergelangan tangan atau bahkan tempat tertentu di badan sesuai yang kita inginkan.

2.STICKER PHONE



Dari sebutannya saja sudah kelihatan bahwa ponsel tersebut efektif untuk ditempelkan di semua tempat. Jika Sticker Phone menempel pada dinding atau pintu yang terkena langsung sinar matahari, handphone ini dapat mengisi ulang baterai dengan sendirinya. Ini bisa terjadi karena didalam handphone tersebut terdapat panel tenaga surya. Wah.. jika nanti bisa direalisasikan maka satu lagi terobosan di dunia ponsel, sebuah alat yang inovatif dengan tenaga surya sebagai teknologi alternatif baterai di masa depan, sehingga kita tak perlu repot-repot mencari colokan listrik atau kemana-mana ribet menenteng charger baterai.



3.COBALTO PHONE 


Teknologi handphone yang satu ini terlihat futuristik. Pada bagian atas Cobalto terdapat layar 3D yang akan berfungsi menampilkan obyek di sekitar pencarian saat pengguna Google Maps menentukan sebuah tempat. Sebagai contoh jika kita membidik suatu obyek dan didekatnya terdapat tower atau bangunan tinggi, maka tower tersebut akan terlihat tampil ke atas seperti keluar dari layar. Semua body dari alat ini dibuat berbahan baku kaca.


4.PACKET PHONE 


Adalah ponsel yang terbuat dari komponen layar bersifat fleksibel. Packet pada mulanya merupakan handphone mini biasa tapi tersusun dari beberapa lipatan dan jika kita membukanya step by step maka ukurannya akan semakin besar. Teknologi yang Unik bukan?


5.MOBILE SCRIPT


Mobile Script mulanya hanya kelihatan kotak panjang seperti handphone pada umumnya. Namun siapa yang mengira jika alat ini menyimpan layar berukuran besar yang tersembunyi! Karena multifungsi maka bersama teknologi layar ini kita bisa mengoperasikan berbagai fitur. Salah satunya kita bisa menggunakannya untuk bermain game dengan leluasa.


5.FUJITSU PEBBLE 


Tidak ada yang istimewa dari penampilan Fujitsu Pebble ini. Tapi Anda akan terkesima saat layar handphone yang tadinya cuma terlihat satu titik hitam, akan segera merubah dirinya sehingga berwujud browser, keypad dan aplikasi yang lain setelah kita memencet tombol tertentu. Teknologi handphone masa depanyang pantas kita nantikan kehadirannya.


5.NOKIA MORPH 


Menurut rumor yang berkembang, Nokia Morph adalah ponsel pintar yang sanggup membersihkan dirinya sendiri dari kotoran yang menempel. Mengusung teknologi Nano, layar dalam handphone ini transparan dan dapat disesuaikan bentuknya menurut selera penggunanya. Selain itu, Nokia Morph juga berbodi fleksibel.


Itulah beberapa informasi berupa ide unik sebagai jawaban atas gambaran teknologi handphone masa depan. Mungkin masih terdapat contoh lainnya yang tidak tercover oleh penulis. Kita berharap semua rancangan ini dapat terwujud karena akan sangat disayangkan jika konsep-konsep tersebut hanya berhenti di tengah jalan.