Selasa, 10 September 2013

# Mimpiku (part 3) #

Kubuka korden jendela disisi ruang mawarku, tempat aku masih dirawat dirumah sakit ini. Sudah 3 hari aku dirawat, rasanya pingin banget keluar jalan-jalan menyusuri jalan-jalan kecil yang ada didesaku. Tapi, ibu pasti melarangku.

Uh…tinggal di rumah sakit sangat membosankan. Makanannya tidak enak, Tidak ada hiburan, bau khasnya selalu membuat aku mual, apalagi tak ada seorang yang sebaya denganku untuk ku ajak bermain. Seandainya saja, ada seseorang yang dapat menghiburku dikurungan menyebalkan ini. Menyanyikan sebuah lagu untukku, mengajakku main tebak-tebakan, bahkan tempat untuk aku bercurhat. Ah…pasti seru!!

“Tok…tok…” sebuah ketukan pintu mengagetkanku. Aneh, mengherankan, siapa sih pagi-pagi begini menjengukku? Perasaan, akhir-akhir ini tak ada satupun yang menjengukku kecuali sahabat karibku, saudara orangtuaku rumahnya jauh semua. Jadi penasaran nih, siapa ya? Kutatap pintu putih tebal itu yang dibaliknya ada seseorang yang misterius itu, kutunggu-tunggu hingga ia masuk. Akhirnya, ibu membukakan pintu untuk tamu istimewa itu.

Tamu itu langsung memberikan sapaan hangat, ia menggenggam setangkai bunga dan tangan satunya membawa separsel buah-buahan. Kalau dibilang sih, ia mirip seorang model. Pasti ia sangat menyukai fashion atau seni. Ia memadukan baju polos putih tertutup baju kotak-kotak merah dan dilepas kancingnya, sehingga baju putihnya agak kelihatan juga memakai celana jeans coklat bersepatu hitam. Tidak lupa, ia memakai kaca mata hitam menutupi matanya yang teduh nan ramah. Rambutnya dibedirikan dan belakangnya diluruskan. Kalau cowok seperti inilah, yang diidamkan ribuan cewek. Sangat elegan. Tapi…bagi Rara entahlah. Saat cowok itu melangkah masuk…

“Apa!!” seruku melihat dia berdiri mematung didepan pintu karena mendengar teriakanku. Ibu melihat kearahku tak mengerti serta bingung, kenapa Rara tiba-tiba berteriak seperti itu kayak melihat hantu saja? Mengapa sih hidup itu menyebalkan dan selalu tidak adil? Aku kan berharap seseorang datang dalam hidupku untuk menghiburku bukannya malah membuat hidupku makin membosankan saja. Apakah ia kira dengan membawa sekuntum bunga dan separsel buah-buahan plus akting sok ramah dan sok baik itu dapat membuat aku memaafkannya?

“ Aku masih sebel banget sama kelakuaannya yang tidak tahu sopan santun itu beberapa hari yang lalu. Benar-benar tak tahu sopan santun. Sudah tahu, dendam sebel karena sikapnya itu dan berharap tak bertemu lagi, eh…tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan malah nongol menampang muka sok alim, kayak gak punya salah aja. Rasa sebelku ini sudah menjadi-jadi.

Tanganku ini sudah gatal, mukaku telah merah membara, muak sekali melihat tampangnya itu. Langsung, kulangkahkan kakiku mendekatinya dan tanpa kata sedikitpun kutarik ia keluar dari ruanganku, meninggalkannya diluar, membanting pintu itu tak berperasaan, menjauhkanku dari wajahnya yang terlihat sangat dungu atas tingkahku tadi. Meskipun begitu, sisa-sisa dihatiku yang tadi hampir habis terbakar masih menyala.

Ibu menatap Rara bagaikan seorang macan yang siap menyerang, sangat tajam dan menakutkan. Ia menganggap kalau Rara yang dilihatnya kini bukan Rara anaknya melainkan seorang jin yang merasuki tubuhnya, bertingkah laku seperti seekor hewan. Terlihat jelas ibu sangat marah dan sedih melihat tingkah laku Rara, kecewa dirinya, sia-sia semua perjuangannya membesarkan Rara hingga titik darah penghabisan, hasilnya Rara bertingkah laku mirip seekor hewan atau mungkin seperti setan.

“Apa yang kau lakukan Rara? Apakah kau tidak berpikir untuk menghormati setiap orang yang dengan tulus menjengukmu.” Bentak ibu padaku, darahnya mendidih, uap-uapnya telah meletup-letup. “Ibu cowok seperti itu tak perlu dikasihani, dulu dia itu menubrukku tanpa minta maaf sebelum aku masuk kerumah sakit karena penyakit ini.” Jelasku beralasan. “Apakah kau tau siapa yang membawamu kesini saat kau terbaring dibus dan tak seorangpun memedulikanmu?” kata ibu bijak membuat aku diam seribu kata, mendengar perkataan itu, hatiku jadi bertanya-tanya dan terasa tak percaya. Mana mungkin. Mana mungkin yang ternyata menolongku itu cowok kurang ajar itu? tidak mungkin. 

“Ibu bercanda kan?” tanyaku meyakinkan kalau itu tidak benar. “Kalau kau sayang sama ibumu ini, maka kamu juga harus sayang sama orang yang telah menyelamatkan hidupmu.” Katanya dengan nada tinggi. Benarkah itu? Benarkah kata-kata yang telah diucapkan ibuku tercinta ini? Benarkah semua ini? Apakah aku telah salah? Apakah aku telah membentak ibukku dan membuatnya marah seperti ini? Ini salahku. Aku telah membuat ibukku marah karena telah bersikap kasar sama cowok yang menyelamatkan hidupku. Benarkah dia penyelamat hidupku, malaikat penolongku? Benarkah? Benarkah?

- - -

“Uh…salahku.” Gerutu seorang cowok dibalik pintu. Ia tak mengerti kedatangannya untuk menjenguk cewek yang telah ditubruknya dulu ternyata tak diharapkan. Malahan, ia telah menimbulkan pertengkaran antara cewek itu dengan ibunya. Cewek itu pasti masih tak menerima perlakuan atas dirinya. Ah…ternyata niat baik cowok tampan ini tak diterima. Dengan terpaksa, cowok itu melangkah pergi. Melangkah dengan membawa rasa bersalah yang amat sangat. Daripada nantinya, pertengkaran kedua wanita yang baru dikenalnya itu malah makin menjadi.

 “Um…nak, tunggu sebentar! Jangan pergi dulu!” teriak seorang paruh baya yang dikenalnya itu berlari terseok-seok kepada cowok itu yang berjarak beberapa meter darinya. Ia pun menoleh. Dengan penuh hormat, cowok itu membungkuk rendah pada paruh baya yang telah berada didepannya dan terlihat ia sangat kelelahan. Terlihat disana, Rara melongok dari balik pintu dengan wajahnya yang seperti cabe busuk plus asap yang menguap dari balik matanya yang tajam. Ia melihat kejadian ini dengan jelas. Bumbu rasa kesalnya sudah bertabur. “Jangan pergi dulu! Sebenarnya, kami sangat senang atas kunjunganmu menjenguk anakku tadi. Tapi, karena kelakuan anakku, Rara yang tidak tahu malu itu telah membuatmu kesal. Aku mohon tolong dimaafkan.” Kata ibu itu tulus memohon maaf padanya.

Cowok itu terasa canggung dengan tingkah ibu paruh baya itu. “Ibu… Ibu tidak perlu melakukan hal ini. Sebenarnya, anak ibu itu…Um…Rara… itu tidak bersalah, yang salah itu aku. Jadi, maksud kedatanganku kesini itu untuk meminta maaf kepadanya.” Katanya pelan sambil memegang kedua sisi pundak ibu itu agar menyamakan tingginya dengan tinggi ibu itu yang ternyata lebih pendek darinya. “Kalau begitu, bisakah kau menemui dulu Rara mungkin kau perlu berkenalan dengannya atau perlu hibur dia, ia pasti kesepian sekali selama ia dirawat.” Sahutnya dengan nafas mengeluh panjang. Cowok itu hanya mengangguk ringan tanpa mengurangi rasa hormatnya pada ibu paruh baya itu.

- - -

Aku menatap tajam cowok berbaju kotak-kotak merah itu dibalik lengkupan selimutku. Bayangan siluet wajahnya yang sok ramah pada ibuku itu terpapar jelas menghalaui lubang-lubang kecil rajutan yang tengah mengkukungku. Uh, sok ramah, sok manis dan sok baik. Menyebalkan. Tak ada kata darinya, menoleh sedikitpun padaku saja tidak. Ia lebih memilih sifat menunggu dan menunggu. Mungkin ia berpikir, ‘Akan adanya nanti waktu yang sangat tepat’. Tingkah duduknya itu yang menurutku terlalu sok sopan, ia tak duduk disofa itu dengan bersila ataupun menaikkan salah satu kakinya, melainkan dengan sikap yang memang santun, sambil menggenggam kedua belah tangannya, mengepal diatas pahanya, dan yang membuatku bertambah sebel, ia melirikkan bola matanya mengikuti langkah ibuku yang seperti setrika kepanasan dengan senyuman hangat tak habis-habisnya.

“Rara, ibu pergi keluar sebentar. Kamu disini saja bersama Fo.” Aku pun tersentak, meloncat dari persembunyianku. “Tidak…aku tidak mau…aku ikut.” Bantahku serta merta, tak memedulikan cowok pemilik nama Fo itu tersenyum masam. “Rara…” sahut ibuku memasang pandangan tajam menikam, membunuh segala bantahan bodohku, tak sadar telah berhadapan dengan siapa. Aku kenal tatapan aku. Mungkin tadi, ia dapat menahan kemarahannya tapi untuk kali ini, aku lebih memilih mengalah. Aku pun tersenyum masam, pandanganku jatuh, meringkuk, aku tak dapat bersembunyi lagi, selimut itu tak cukup menyembunyikan semua perasaanku, kalau aku takut untuk… Cowok itu tersenyum manis. 

- - -

Ia menang. “Bruk…” penghakiman yang sangat tidak adil. Kenapa aku yang harus jadi terdakwa? Sekali lagi, pintu itu benar-benar tidak adil.
Sejak aku mengenal nama misterius itu, semuanya terasa berubah. Aku tidak mengerti apa makna dari hanya 2 kata yang tersirat itu. Mungkin, kalau aku tidak malu membalas senyum hangatnya itu aku pasti telah menanyakannya. Tapi, sepertinya aku tak sanggup. Dia adalah orang yang telah mengenalkanku arti kebahagiaan sebenarnya, arti kasih sayang sebenarnya, arti persahabatan sebenarnya, bahkan mengajariku untuk mencintai. Semuanya terasa menyenangkan bersamanya. Ketika, kita mengenalnya, maka kita pasti ingin mengetahui, skenario apa dibalik senyuman hangat itu sehingga ia memiliki segala keistimewaan itu. 

Aku kagum padanya. Atas segala argumennya tentang hidup ini. Seharusnya, kau tak berpikir pelangi itu selalu indah, ia harus berusaha untuk dapat bersinar dibalik badai yang mengepung. Begitu juga dengan Dia, Dia telah berusaha bersinar dibalik skenario yang ternyata, badai yang mengiring perjalanannya. Berusaha untuk bersinar terus bersinar berusaha bersinar meski semua terasa tak adil. Dia tetap bersinar walaupun hanya sementara. Sebagai Oscar penghargaan kemenangan itu, Tuhan telah menganugerahkannya senyuman hangat yang tak kan pernah luntur. Sejak aku mengetahui hal itu, semua rahasia dibalik senyuman hangat itu.
Aku pun tak sanggup menunjukan rasa kesedihanku jika sudah terbendung di bingkai wajahku, karena kini aku tahu cowok itu tak akan tega tersenyum hangat jika seseorang menangis tersedu di hadapannya. 

Entah karena apa? Entah sebab apa pula? Intinya, aku tak mau ia menghilangkan senyuman hangat itu gara-gara aku. Telah menyebabkan skenario yang kelam itu terputar kembali di pikirannya. Tentang seorang gadis kecil menangis terisak didalam pelukan hangat kakaknya, memandang seluruh kehidupan barunya yang kelam, Dan bidadari penolongnya pun telah pergi terbang ke angkasa. 

- - - 

“Prok…prok…” suara tepukan tangan bergemuruh memenuhi isi ruangan gedung itu. Begitu pula dengan kegembiraan juga kekecewaan mengepul tak menguap sedikit pun. Bukan karena undian hadiah yang ingin mereka dapatkan. Tapi… “Baiklah…para hadirin semua. Kita panggilkan untuk pemenang artikel yang mendapat juara 1.” Tepukan riuh itu pun berhenti sejenak.

Seluruh ruangan senyap seketika. Memasang telinganya masing-masing. Tak ingin kesempatan terakhir untuk memenangkan kejuaraan artikel remaja ini dari puluhan remaja yang mengikuti terbuang percuma, hanya karena salah mendengar kalau ternyata namanya dipanggil. Aku duduk gelisah di pojok ruangan. Tak sabar ingin mengetahui siapa kali ini yang mendapatkan rangking 1, setelah kesempatan emas ini tak turun-turun juga sebelumnya. “Siapa ya, kira-kira?” seru host acara itu, membuat seluruh peserta jadi penasaran semua. Amplop biru bercap percetakan kompas itu yang didalamnya terdapat secarik kertas yang menyimpan seluruh rahasia ini akhirnya terbuka. 

Seluruh hadirin melepas napas panjang, diam terpaku, menatap tajam diamplop itu serta gerakan host itu. “Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah pada pemenang beruntung ini. Rara Setyarani.” Teriak host itu membahana membuat seluruh pandangan mata terhujam padaku. Aku diam, semuanya terasa berhenti. Membiarkan jutaan mata itu tetap menhujamku. Aku tak menyangka kisah ini kan berpihak padaku. Aku menatap ibu yang berada disampingku. Bidadari berhati putih itu pun mengangguk pelan. Butiran mutiaraku mengalun pelan disela-sela wajahku. Jatuh mengembun di lantai ruangan itu. 

Aku tak kuasa menahan rasa haruku, ini semua terasa mimpi. Aku pun melangkah menuju panggung utama. “Selamat ya.” Kata seorang direktur itu sambil tersenyum kecut. Memberikan piala dan piagam penghargaan plus amplop kecil. Aku dapat melihatnya, ya melihat perasaan direktur itu saat berada satu langkah didepanku, ia membawa sejuta perasaan dungu, takut, ketidak percayaan, dan kemaluan yang luar biasa. Dipendam pahit sekali dihatinya. Aku masih ingat sekali kejadian bulan lalu saat ia membentakku karena ia menganggap artikel yang mendapat bintang emas ini hanya sebuah coretan anak kecil. “Ha…ha…” aku tertawa kecil.

Kupandang jelas seluruh isi ruangan itu. Seluruh peserta yang hanya melepas napas antusias. Begitu jugaa dengan kedua orang teristimewa itu. Bidadari baik hati itu dan cowok yang mengalungkan kamera memakai jaket hitam, iya, si pemilik senyuman hangat itu. Kulihat ibu menangis terharu diujung ruangan. Berkali-kali ia mengusap air matanya yang turun deras menghujani wajahnya yang redup dan lelah. Kebaikan hatinya juga pengorbanannya itu mencair bersama butiran suci itu.
Kulihat Fo yang berdiri gagah di depan pintu bersama reporter lainnya. Kupandang wajah pelangi itu, tak henti-hentinya ia memancarkan senyuman hangat, matanya terkesima menatapku. Tapi, ada yang aneh dengan…Apa itu? Benda apa itu yang berhasil mengarungi wajah pemilik senyuman hangat itu? membuat kedua tepi hidungnya basah seketika. Benarkah ia menangis? Tidak pernah sebelumnya aku melihat ia menangis seperti ini. Ya ampun, Fo. Kau memang pantas memiliki semuanya. “Jret…” sebuah jepretan kecil merekam seluruh kejadian itu Juga, kini skenario indah kan berputar mengarungi hidupku bersama bidadari baik hati dan wajah pelangi itu. Semuanya kan selalu bersemi seperti semuanya telah ditakdirkan sebelumnya.

Terlihat jauh disana! Beberapa manusia berwajah kusam nan sendu mencoba memelas pada orang yang melewati mereka. Anak kecil kumuh berlari-lari memanggil orang tua mereka yang mungkin saja tak memperdulikan nasibnya. Sahutan para pedagang asongan berkantong kosong itu bagaikan harapan kecil untuk diisi kembali. Jelas saja, saingan berat bagi mereka dihadapkan pada mall-mall dan toko besar. Embun dipelangi mataku telah bersenja kembali, tak ada kesedihan, bukankah begitu? Sayap rapuh dibalik fajar yang temaram tak akan bersemi kembali, meskipun kedua mahkotamu kan mengarungi istanaku. Kuharap. Lembaran-lembaran yang telah kusam kini tergantikan. Begitu juga tulisannya kan mulai rapi. Kini, taburan keceriaan kan selalu menyapa dalam setiap nafas pendekku ini. Setiap detik waktuku kan selalu bermakna. Kuharap untuk selamanya…selama-lamanya…kan slalu bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar