Tak diundang pun semua itu pasti terjadi, sesuatu yang kuharapkan aku masih bisa merasakannya disetiap nafas pendekku ini. Jika, engkau tahu seberapa berarti hidupku saat aku bersama dengan keluarga tercintaku maka engkau pasti akan merasakan hal yang sama, bahwa aku masih ingin bersama mereka memeluk mereka terus menerus. Meskipun, aku tahu ruang dan waktu telah memisahkan kita.
Tapi, ternyata masa lalu tetaplah masa lalu, walaupun aku tetap tak merelakan semua ini terjadi. Semuanya telah berjalan, aku tak dapat berbuat apa-apa.
- - -
Seminggu yang lalu..
“Bu, aku pergi dulu, ya?” sapaku hangat, kuangkat tangan keriput itu merendahkan dahiku untuk menyentuhnya. Begitu juga adikku, lala. Adikku satu-satunya, ia masih terlalu kecil untuk memaknai hidupnya itu, jika ia tahu kalau ayah sudah meninggal bukan bekerja jauh sejak setahun yang lalu. Ia baru saja menginjak kelas 2 sd, Sedangkan aku kelas 3 smp. Namaku Rara setyarani.
“Iya, hati-hati. Jaga adikmu baik-baik!” ingatnya. Dan aku hanya mengangguk ringan. Kukayuh sepeda buntut biru ini. Kulihat, ia masih ceria duduk dikursi belakang memelukku erat.
“Sudah sampai, la. Nanti, pulangnya dijemput ibu saja, ya?” tanyaku padanya sambil menurunkannya. Lala tak memerhatikanku, ia tertarik pada sesuatu yang ada diseberang jalan.
“La, kamu tak boleh makan lolipop. Nanti, gigimu berlubang. Ayo, cepat sana masuk sekolah!” kataku melarangnya dan sepertinya ia sangat marah.
Lalu, ia menuju gerbang sekolahan dengan langkah kesal, mendadak ia berhenti, menengok kearah penjual lolipop keliling itu yang disekitarnya banyak anak-anak, dan mengambil langkah. Lala, bandel. Ia berlari kearahnya tanpa melihat-lihat sedangkan disekitar sana banyak kendaraan berlalu lalang tak memerhatikannya.
Ia pun berhenti ditengah jalan, entah kenapa? Aku kaget sekali dengan tingkahnya itu yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Sedangkan, diujung jalan terlihat sebuah mobil melaju kearahnya dengan sangat cepat.
“Lala..” teriakku sekeras mungkin, tapi ia tak mendengar apapun dan tak merasakan apapun seperti dunia ini berhenti dihadapannya. Lala malang. Dan akhirnya rangkaian bunga ditaruhkan dipembaringan terakhirnya. Penyesalan itu memang selalu datang diakhir.
Padahal, aku belum sempat meminta maaf dan menciumnya untuk terakhir kalinya. Aku telah kehilangan ayahku dan aku harus kehilangan adikku, bukankah itu sangat menyakitkan? Hancurlah hatiku berkeping-keping, apa gunanya hidup ini jika orang tercintanya telah tiada? Bagaikan angan-angan kosong. Tanpa mereka, hidupku benar-benar ganjil. Mungkin, ayah dapat kurelakan tapi kalau Lala aku belum bisa. Aku kangen sekali pada candanya yang lucu, gelak tawanya, senyum manisnya. Ah..seandainya waktu dapat diputar. Tak terasa, butiran air mata telah jatuh berjatuhan membasahi pipiku. Mataku memerah, pipiku mengerut, tak ada senyum tak ada tawa. Malam ini memang begitu sunyi.
- - -
Mentari tengah bersinar cerah tepat diatas kepalaku. Beberapa awan terasa enggan untuk meneduhi bumi yang sudah tua ini, ditambah lagi pohon-pohon sudah tak dapat merindangkan kota ini yang sudah penuh dan sesak. Disana-sini hanya ada gedung-gedung kokoh tinggi yang telah menghalangi banyak orang miskin untuk mempunyai cita-cita dan pengharapan untuk hidup lebih lama lagi.
Tapi, aku kesini untuk menunjukkan pada mereka kalau aku bisa melakukannya, merubah mimpi menjadi sebuah kenyataan yang benar-benar nyata. Percetakan kompas, aku kesini untuk memberikan laporanku pada pimpinan disini agar laporanku dapat diterima secara langsung dan akan diterbitkan dikoran ternama ini.
Judulnya “Jakarta bukanlah surga.” Ya, judulnya memang sangat aneh tapi kuharap laporan ini dapat dimasukkan dan tentunya akan mendapat honor yang lebih.
“Silakan masuk!” perintah pelayan itu agar aku segera masuk keruang direksi, bukankah aku kesini untuk menemuinya? Aku pun segera masuk kedalam ruang itu. Agaknya aku berkecil hati pada laporanku ini bagaimana kalau laporannya tak dapat memuaskannya yang lebih parah lagi bagaimana nanti kalau aku bakal dicaci maki olehnya? Aduh, apa sebaiknya aku urungkan saja niatku ini dan pulang saja kerumah. Tapi..
“Ada apa? Kemarilah!” panggil direktur berjas hitam serta berkaca mata tipis itu. Jantungku berdetak kencang, keringat dinginku mulai keluar, sekarang aku bagaikan tikus dikandang singa. “Cepat!” Sebaiknya, aku segera kesana. Aku mencoba duduk dikursi empuk itu, tapi aku tak bisa. Mulutku kaku, aku tidak tahu mau bicara apa. “Mana laporannya?” Aku menurutinya. Sepertinya, ia tidak berminat untuk menemuiku. Namun, aku hanya diam menunduk. Laki-laki itu tersenyum mengejek setelah membaca laporanku.
Lalu, ia membantingnya serta merta dimeja bagaikan kotoran sampah. “Laporan beginikah yang ingin kau terbitkan dikoranku. Sebaiknya, kau pulang saja cuci kakimu lalu tidur bersama impianmu itu. Laporan seperti itu tak ada gunanya bagiku. Cepat sana pergi!” bentaknya keras padaku. Pupuslah harapanku saat ini. Ternyata, aku telah bodoh berani masuk dikandang seekor singa. Ah, memang bodoh.
- - -
Seandainya saja, aku tak jadi pergi kekota hanya untuk memberikan laporan ini pada seekor singa, pasti akhirnya tak begini. Naik bus umum. Sudah, aku kecapekan, karena tak dapat tempat duduk harus berdiri, udara makin panas, dimana-mana adanya bau keringat. Penumpang bus sudah campur baur tak terkendali dan sudah tak peduli. Ah, hari ini menyebakan sekali. Mendadak, ada seseorang cowok menabrakku dari belakang. Sontak saja, aku kaget dan laporanku jatuh dari genggamanku.
“Oops, sory.” Serunya seenaknya sambil berlalu begitu saja. Lalu, kuambil laporanku dengan wajah sebel. Uh, gak sopan banget, cowok macam apa dia itu? Udah nabrak, bantuin aja enggak, maaf aja setengah-setengah.
Cowok zaman kayak gini kelakuaannya memang kurang ajar banget. Bantuin cewek mesti cewek yang cantik dan seksi, gak ada tuh cerita cowok bantuin nenek-nenek nyebrang jalan, kalau ada pasti 15%:100%. Bete banget. Kenapa rasanya waktu makin lama aja?
Tapi…kok aneh…Kenapa rasanya ada yang aneh dengan..?
Jantungku.
Rasanya sakit. Serasa ada ribuan jarum menusuk jantungku tanpa ampun. Kupegang dadaku dengan genggaman tangan kananku untuk mengurangi rasa sakit ini. Tapi, tetap saja rasanya sama bahkan makin sakit. Sekarang, bukan jarum lagi yang telah menusuk jantungku tapi pisau yang begitu tajam mengirisnya perlahan-lahan. Detak jantungku melemah, nafasku mulai terasa terhenti. Dadaku terasa panas, seperti direbus didalam air yang mendidih.
“Ah..” desahku pelan. Aku sudah tak tahan lagi, rasanya mau mati. Pandanganku mulai kabur, tubuhku melemas. Lalu, “Bruk..” tak sadarkan diri.
- - -
Orang-orang dibus panik, bingung. Mereka semua melihat kearah seorang gadis tergeletak dilantai bus. Tak ada yang tau apa yang terjadi padanya? “Kenapa dia?” tanya seseorang pada lainnya. “Tidak tahu, tiba-tiba langsung pingsan atau dia sudah mati.” Jawab salah seorang laki-laki tua tanpa beralasan. Gadis itu pun dikerumuni banyak orang yang hanya menontonnya.
Mereka hanya saling bertanya dan menggeleng. Tiba-tiba seorang cowok menyembul masuk ke kerumunan itu. Terlihat cowok itu sangat khawatir pada gadis itu ia sampai berkeringat, nafasnya sudah tak beraturan. “Apa yang kalian lakukan? Mengapa hanya menontonnya kalian kira ini sebuah hiburan? Ayo, bantu aku membawanya ke rumah sakit.” katanya keras pada mereka. Mengapa cowok itu sekhawatir itu padanya?
- - -
Sunyi..sunyi..sangat sunyi.
Tak terdengar suara apapun.
Sepi, sangat sepi.
Tak terasa apapun.
Rasa sakit itu serasa terhenti untuk sebentar, atau untuk sementara waktu. Tubuhku terasa ringan, aku seperti melayang di angkasa, terbang bersama awan. Aku merasakannya, meskipun mataku terpejam. Kucoba untuk menggerakkan tubuhku, bisa, tubuhku bisa bergerak dan anehnya aku tak merasa sakit sedikitpun seperti yang kurasakan sebelumnya. Lalu, aku pun membuka mataku. Dan anehnya, sangat aneh.
“Dimana aku? Kenapa semuanya putih?” Aku segera bangun dan berdiri di ruangan luas dan semuanya putih itu. Aku merasa bingung dengan keberadaanku saat ini. Sebenarnya, dimana aku? Mengapa semuanya disini putih? lantainya pun sangat licin, dan disini sangat luas. Aku juga tak melihat ujung dari ruangan putih ini. Ku lihat keatas dan benar atasku juga putih, seperti awan tebal yang sangat putih, semuanya seputih salju.
Disini sangat sunyi, sepi.
Tak terdengar suara apapun.
Dan aku pun tak melihat benda apapun disini, semuanya kosong. Kecuali aku, berdiri sendiri disini, tak tahu dimana, dan tak tahu mau kemana. Aku harus keluar dari sini, secepatnya. Lalu, tak ada jalan lain, kecuali berlari. Terus, terus, dan terus.
Tapi, percuma sekuat apapun aku berlari, sejauh apapun, aku belum menemukan ujung dari tempat ini. Lagipula, aku sudah capek, aku bingung, takut, rindu, aku rindu ibuku. Aku ingin pulang. Tapi, bagaimana caranya aku keluar dari sini?
Akhirnya, aku menangis terisak disitu. Aku takut kalau nanti aku tak akan pernah pulang lagi. “Ya Allah, aku mohon. Tolonglah hambamu ini.” Harapan terakhirku adalah berdoa. Kuharap aku segera pulang.
Dan, alhamdulillah. Tepat beberapa meter didepanku, ada sebuah pintu. Sebuah pintu putih setinggi 2 meter dan setebal 15 cm berdiri tegak. Ya ampun, aku senang sekali. Aku bersyukur tiada tara kepada Allah. Aku pun mengusap sisa air mataku, dan tersenyum. Aku tahu awalnya tak ada pintu putih itu didepanku, tapi aku tak peduli. Pokoknya, aku mau pulang. Lalu, aku berjalan kearah pintu itu. Tepat didepanku, pintu itu benar-benar indah, seperti terbuat dari mutiara, gagangnya mirip kristal, memang sangat indah.
Tapi, mengapa pintu itu tak terpasang pada sebuah dinding? Melainkan, hanya berdiri tegak dengan bingkainya di tengah ruang itu. Aku bingung, untuk memastikannya kulihat bagian belakang pintu itu. Tak ada yang aneh dengan bagian belakanganya. Ah, sudahlah mendingan aku buka saja. “Kriek..” tidak mungkin.
Sangat tidak mungkin.
Aku kaget bukan kepalang.
Ini sihir atau apaan?
Bagaimana mungkin dibalik pintu itu terdapat sebuah TAMAN HIJAU? Taman hijau yang dipenuhi bunga-bunga, pohon dan buah, juga rerumputan. Mustahil. Aku pun kembali menengok kebelakang pintu itu, terdapat sebuah cahaya ditengahnya. Tapi, tak ada dinding dan ruangan yang menyatu dengan pintu itu, bagaimana mungkin bisa menuju sebuah taman? Ah, membingunkan. Lalu, kulangkahkan kakiku memasuki taman di balik pintu itu. Taman yang begitu indah dan segar. Kutarik nafas panjang, merasakan udara sesegar ini, dan melepas nafas lega. Pikiranku kini mulai tenang. Bagaimana kalau berjalan-jalan sebentar?
Indah. Semuanya indah. Kulihat beberapa bunga tulip, mawar, melati, dahlia, dan matahari tengah bersemi menyebarkan aroma wangi keseluruh penjuru taman, beberapa kupu-kupu sedang berloncat-loncatan dari satu bunga kelainnya, Pohon-pohon serasa bernyanyi menyambutku menggugurkan daunnya menyapaku.
Aku pun masih melangkah dijalan setapak memandang taman bagai surga itu. Tepat jauh diujung sana, kulihat sebuah pohon berdaun ping dan berbatang putih, dibawahnya terlihat seorang laki-laki dan anak perempuannya lagi duduk bercanda. Mereka terlihat sangat akrab. Tapi, sepertinya…
Aku pernah lihat…Iya aku pernah…
Mirip sekali dengan…mereka mirip seperti…
Tapi…mungkinkah anak perempuan itu adalah adikku dan laki-laki itu adalah ayahku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar