Sabtu, 07 September 2013

# Mimpiku (part 2) #




Mungkinkah…?
Air mataku sudah menggedor-gedor kelopak mataku, dan bentar lagi akan tumpah. Tidak, aku tak boleh menangis, tidak mungkin itu ayah dan adikku. Aku pun berbalik menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, sepertinya benar akan tumpah. Akhirnya, aku menangis sesenggukan dipelukan telapak tanganku. Aku rindu.


“Kakak…” terdengar suara anak kecil memanggilku. Aku mengangkat wajahku dan memperjelas pendengaranku. “Kakak Rara…” mendengarnya dua kali tergerak aku membalikkan wajahku untuk melihat pemanggil itu.

Dan akhirnya… Air mataku menghujani wajahku, gembiranya hatiku kala ini. Sangat bahagia, rasa kangenku yang telah menggebu-gebu ini…sekarang, terbang juga. Ah…apakah aku bermimpi? Jawablah pertanyaanku!

Tiba-tiba, gadis kecil manis itu memelukku erat, melepas kerinduannya terhadap kakaknya. Aku pun menangis terharu dan membalas pelukannya dengan hangat. Selepas lega, aku berdiri. Laki-laki tua itu tersenyum hangat padaku, tak menyangka ayahku langsung menggedongku begitu saja. “Ha..ha..” tawaku senang. Hari ini, begitu tak terlupakan, sangat indah.

“Bagaimana sekolahmu Rara?” tanya ayah saat aku memetik sekuntum bunga mentari disekitar pohon ping itu. “Menyenangkan.” Jawabku spontan sembari membawa bunga itu lalu duduk disamping ayahku. “Kakak, apakah ibu masih memarahimu?” aku pun tertawa mendengar pertanyaan lucu itu dari Lala.

“La, ibu sangat baik padaku. Ia sangat sayang padaku.” Balasku tersenyum padanya. Teringat akan ibu…seandainya ibu ada disini, pasti semuanya terasa lengkap. “Lala, kau kangen ya sama ibu?” Lala mengangguk merunduk. Ia pasti kecewa karena tak dapat bertemu ibu.

Lala, maafkan aku. Ayah, maafkan aku karena aku tak dapat mengajak ibu kesini.” Kataku pada ayahku dan Lala pelan. Sedih rasanya. Ayahku tersenyum hangat padaku sambil mengelus rambutku. Tak kulihat diwajahnya kesedihan.

“Bertemu denganmu ayah sudah merasa senang.” Katanya menghiburku agar tak perlu sedih lagi. Aku pun memeluknya lagi. Ayah…Tahukah engkau kalau Rara anakmu ini begitu kangen padamu? “Oh, iya Ayah apakah aku sudah mati?” pertanyaanku yang telah membuatku penasaran kali ini.

“Belum Rara, kamu belum mati.” Anggukku mengerti. “Bolehkah aku menyusul ayah dan Lala?” Ayah tersenyum. “Boleh. Tapi, kamu harus janji untuk selalu membahagiakan ibu dan menjaganya baik-baik.

Ok.” Katanya memberi janji padaku sambil memberi kelingkingnya. Aku pun menggenggam kelingkingnya mantap kalau aku janji akan melakukannya. “Rara, sekarang kamu harus pulang. Nanti, ibu khawatir.” Kata ayah sembari membantuku berdiri.

“Baiklah, ayah. Aku pamit pulang dulu, ya.” Pamitku sambil mengecup tangannya. “Lala, aku pulang dulu ya.” Kataku pada adik imutku tersenyum lucu padanya.

“Da..da..” lambainya memberi salam perpisahan padaku. Aku lihat senyum hangat dari ayahku lagi. Mungkin, untuk terakhir kalinya. Aku pun melangkah berbalik hendak menuju jalan pulang, kembali keruang putih itu. Sembari memejamkan mataku, menghirup udara segar ini anggap saja sebagai kenangan terakhir.

Kali ini, bunga-bunga kian bersemi, benih-benih rindu telah pergi, beterbangan dengan kedua sayap kecil bidadari, melintasi angkasa hingga keujung surga, meskipun aku tahu benih-benih itu akan berakar kembali diantara relung hatiku, setidaknya semuanya terasa lega.

Kemudian, aku membuka mataku ingin melihat taman ini untuk terakhir kalinya lagi. Apa yang terjadi?
Bagaimana mungkin?


Padahal…aku belum… Lalu, apa artinya pertemuan tadi? Apakah ayahku dan Lala yang kulihat tadi benar-benar nyata atau hanya sebuah angan-angan? Mengapa semuanya kembali seperti semula? Dimana tamannya? Dimana tamannya?

Oh…tidak…aku kembali keruang putih ini lagi. Uh, bagaimana caranya aku dapat pulang ke ibu? Bagaimana caranya agar aku pulang? Aku harus memenuhi janjiku. Aku harus pulang. Aku harus bertemu ibuku secepatnya. “Ibu…tolong Rara. Rara ingin pulang.” Teriakku membahana diruangan kosong itu.

Tak ada balasan. Ya, apa yang harus kulakukan kecuali menangis. Tangisanku terasa tak ada gunanya, semuanya tetap sama.

“Hik…hik…Rara…” terdengar seperti tangisan ibuku. Ibuku memanggilku. “Ibu…kau dimana?” sahutku keras.

Tak ada jawaban, melainkan suara tangis dari ibuku. Akhirnya, aku pun berlari menuju asal suara itu, entah dimana? Pokoknya keasal suara itu. kuharap saja, ibu ada disini. Sampai disuatu tempat, suara itu makin pelan. Maka, aku berlari kearah sebaliknya. Hingga disuatu tempat yang berbeda, suara itu makin keras sampai dipusatnya suara ibuku terasa dekat dan keras. Tapi, aku tak melihat apapun disini juga ibuku kecuali mendengar suara tangisan ibuku.

Sia-sia semua tenagaku ini, aku tak menemukan apapun, tak ada hasil. Semuanya sama. Aku menyerah. Aku pun terduduk merunduk sedih. “Rara, cepatlah pulang.” Suara itupun terasa makin jelas, memanggilku.

“Oops, sory.” Serunya seenaknya sambil berlalu begitu saja. Lalu, kuambil laporanku dengan wajah sebel. Uh, gak sopan banget, cowok macam apa dia itu? Udah nabrak, bantuin aja enggak, maaf aja setengah-setengah.

Makin jelas…jelas…dan jelas.
Sekilas, sinar yang begitu terang memancar dari atas. Aku pun mendongak. Sinar itu sangat silau…perlahan-lahan makin cerah…cerah… menyilaukan. Sinar itu makin cerah hingga memenuhi ruangan itu. kupejamkan mataku.


- - - 

Entah aku akan kemana? Tapi, semuanya terasa berbeda…sangat berbeda.
Sekarang…nafasku sangat sesak…tubuhku kaku…menggerakkan salah satu anggota tubuhku saja seperti mengangkat benda ribuan kg. Sangat sakit dan menyiksa.


Lemas…sangat lemas…sakit…sangat sakit. Sekarang, aku tidak lagi bagai tidur diawan tapi di batu karang. Apalagi, yang paling sakit yaitu di jantungku. Jantungku berdetak sangat lemah…pelan…menyakitkan.

“Tiit..tiit..” Suara apa itu? Bukankah itu suara mesin yang biasanya mendeteksi detak jantung seseorang? Bukankah mesin itu adanya hanya di rumah sakit? Mengapa terdengar makin jelas dan dekat? Bau apa ini? Seperti bau obat-obatan. Apakah sekarang aku berada dirumah sakit?

Samar-samar, kulihat tulisan besar jauh didepanku ‘ICU’. Jadi, memang betul. “Rara, kau sudah siuman. Alhamdulillah. Ibu khawatir sekali padamu.” Kulihat paras itu, paras yang sangat kukenal, paras yang tak mengenal kata lelah, berjuang demi aku hingga titik darah penghabisan saat itu, 14 tahun yang lalu.

“ibu…” Kataku pelan.
Hanya sepatah kata yang dapat kuucap. Sepertinya, ibu sampai menangis melihat keadaanku. Kucoba untuk tersenyum untuk memberitahukan padanya kalau aku baik-baik saja.


‘Dug…dug…dug…’ uh, sekarang jantungku berdebar sangat cepat. Jantungku seperti diremas, ia terus berdebar tak jelas dan tak teratur. Sebenarnya apa yang terjadi dengan jantungku? Kenapa seperti ini?

“Huk…huk…” sekarang, aku malah batuk, bukan batuk biasa. Saat batuk, jantungku terasa sangat sakit, nafasku panas, tenggorokanku kering, dan batuk itu seperti tak berhenti.

“Kau tak apa-apa?” tanya ibuku sambil mengelus dahiku. Aku hanya mengangguk. Sebenarnya, aku ingin bertanya pada ibukku kalau aku sebenarnya kena penyakit apa? Tapi, sebaiknya aku istirahat dulu.

Oh, iya sebenarnya juga aku ingin memberitahu ibu soal kejadian saat aku tidur tadi. Kalau saat itu, aku bermimpi bertemu ayah dan Lala. Entahlah itu hanya sebuah mimpi atau benar nyata? Menurutku, itu terasa nyata sangat nyata. Mungkin, sebaiknya akan kuceritakan waktu lain saja.

‘Terima kasih ya Allah Engkau telah mempertemukan aku dengan ayah dan Lala.’ Aku harus berjuang melawan penyakit ini, entah apa? Pokoknya aku harus hidup demi ibuku, dan janjiku. Kalau aku tak boleh mati sebelum aku telah membahagiakan ibuku dan menggapai cita-citaku. Itulah janjiku. “Dokter…” sahutnya sembari menghampirinya didepan pintu.

“Bu, kita harus melakukan operasi secepatnya. Kalau tidak jantungnya semakin lemah, dan tak dapat memompa darah lagi.” Kata dokter memastikan. Ibu sampai kaget, separahkah itu penyakitku? Pikirannya melayang jauh memikirkan biaya pengobatannya. Ia hanya bisa pasrah.
“2 jam lagi, dokter ahli bedahnya akan datang. Sebaiknya, ibu memberitahukan anak ibu, untuk segera siap-siap.” Katanya memberitakan. Dokter itu pun pergi, ibu melihat kearahku iba. Ia tak tega memberitahukannya, ia juga tak mengerti mengapa anaknya bisa mempunyai penyakit separah ini. Penyakit jantung.

Ibu menghampiriku, memegang tanganku erat-erat, mencoba menguatkanku. Aku mengerti. “Rara…” baru sepatah kata, aku langsung menyela. “Iya, bu aku ngerti kok. Aku siap untuk dioperasi.” Kataku yakin. Kuharap, aku dapat tabah dan kuat menghadapi penyakit ini. Aku tahu setiap penyakit ada obatnya. Ibu sampai terharu melihat keteguhanku ini.

- - - 

Ruangan semakin gelap, atau benar-benar gelap. Pandanganku mulai kabur, rasanya sangat lelah. Sekilas, manusia bermasker dan berpakaian serba putih itu mengerumuniku. Entah apa yang mereka lakukan?

Pastinya, mereka mengutak-atik organ dalamku. Membelah dadaku. Salah seorang dari mereka menyalakan sebuah alat mirip lampu, tidak gelap lagi malahan menyilaukan.

Lalu..Aw..sebuah suntikan bius itu diberikan padaku. Bau bius itu sangat tajam, menusuk hidungku, kemudian mengalir dialiran darahku. Rasanya mataku sangat mengantuk, sangat ngantuk. Akhirnya, aku tertidur.

- - - 

Tuut…tuut…tuut… “Bagaiman keadaannya, dok?” katanya pelan. “keadaannya mulai membaik. Sepertinya, operasi ini akan berhasil. Jadi, dia bentar lagi akan siuman.” Sahutnya membawa kabar baik. Ibu itu pun tersenyum gembira.

Terdengar beberapa orang berbicara didekatku. Mataku masih terpejam, dan sangat berat untuk terbuka. Bau bius tadi kini menghilang, namun alat itu selalu berbunyi didekatku, tak henti-henti. Aku jadi bosan mendengarnya memantau detakku terus menerus.

Kali ini, rasa sakit yang berpusat dijantungku mulai terasa reda, tak sesakit sebelumnya. Perlahan-perlahan kucoba membuka mataku…pelan…pelan… Ah…syukurlah semuanya masih seperti biasa. Tak ada paras sedih diwajah ibuku. Jadi…sepertinya akan lega kembali.

“Syukurlah, kau sudah siuman.” Sahutnya pelan. Mengelus dahiku mungkin udah kedua kalinya. Aku pun membalasnya seperti biasa, tersenyum hangat. ‘Aku akan baik-baik saja.’ Itu pesan yang tersirat.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar