Part 1
Mentari tertidur lelap
dipusara. Gelap datang membayang. Rembulan dengan sombongnya berpose,
menggelayut diangkasa. Selarik dualarik cahayanya menggaris jatuh menghiasi
kota. Jutaan paradoks bintang berkelap-kelip melukis angkasa dengan rasi-rasi,
berjajar, berbaris, merangkai sesuatu. Sesuatu yang tak akan pernah diketahui.
Sesuatu yang amat rahasia. Angin dingin berlari menerabas dedaunan, kayu-kayu
usang,mengalun mengalir mengikuti orkestra malam, terus mengalir pelan, rendah,
indah, tenang. Belum..belum berhenti. Terus mengalir, hingga memasuki jendela
kamarku, menghantam wajahku, menusuk sarafku. Dingin.
“Fiuh..”kuraih jaket
hangat disampingku, lalu kukenakan. Bernafas tertahan, mencoba tetap bertahan
disini, didepan jendela. Menunggu, berharap ia segera pulang dari kencannya
dengan cewek itu, berharap ia segera membuka jendelanya menyapaku kemudian
menghiburku malam ini(kos-kosanku dengan kos-kosannya bersampingan, kamar kami
juga berhadapan). Sejak tadi, sejak matahari menampakkan batang hidungnya,
sejak 15 jam yang lalu, sejak alarm kucingku berdentang 100 kali, sejak itu aku
mulai kesepian. Entah mengapa Hari ini sangat sunyi? Padahal jutaan mesin
beruap itu berbunyi berisik setiap detikan waktu, hari, bulan. Tak berhenti.
Bukan, bukan hariku yang sunyi tapi hatiku, tepatnya.
Kulirik jam weker dimeja belajarku. Ketiga
jarumnya menunjukan pukul 20.30 malam.
“Uh..dia belum pulang
juga.”keluhku.
Pikiranku, melayang,
terbang, berputar, berputar, memikirkan Dia. Apa yang dia lakukan dimalam
kencannya ini? Apakah ia bahagia? Tentu saja. Apakah saat ini ia sedang
menyuapi pacarnya itu? Atau bahkan mencium tangannya, atau mungkin mengecup
pipinya?
“Ah..”diusap wajahnya
dengan telapak tangannya,mencoba menghilangkan pikiran itu. Ia benci, sangat
benci memikirkannya, lebih tepatnya sebal dengan gadis itu bukan sama Dia.
Sudah lama, mungkin
sudah selama 3 tahun, aku dan Dia berteman sangat dekat, sangat lekat, bahkan
rumah kos-kosanku berdekatan, kuliah sama, kelas sama, hobi sama, umur sama, mungkin
persamaannya tigaperempat lebih banyak dibanding perbedaannya. Namun sayang,
hingga detik ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku padanya, entah ia
mempunyai perasaan yang sama atau tidak? Setahuku, Dia orangnya mudah jatuh
cinta diam-diam, diam-diam pula menembaknya.
Aku sangat sedih saat
aku tahu ia telah berpacaran dengan seorang gadis, padahal saat itu aku ingin
mengutarakan perasaanku yang telah kupendam selama ratusan hari. Rasanya sakit,
tentu saja, wajar-wajar saja orang yang cinta bertepuk sebelah tangan seperti
aku ini merasakan sakit. Masalahnya, itu mengganggu konsentrasi belajarku,
membuatku melamun, tersenyum, melamun lagi kemudian menangis. Hal itulah yang menjadi
tidak wajar.
“Uh..” bernapas lenguh,
uap air keluar dari mulutku bergelung diudara.
1 jam berlalu..
Sebenarnya, aku ingin sekali mengungkapkan perasaan itu sejak perasaan itu hadir dalam hidupku lewat Dia. Yang jadi penghalangnya, adalah ketakutanku sendiri. Aku takut kalau ternyata ia tidak mencintaiku saat aku mengungkapkannya maka pasti akan membuat persahabatanku dengannya hancur. Atau mungkin banyak hal buruk yang kemungkinan terjadi. Seorang gadis yang berteman amat akrab dengan seorang cowok, lalu gadis itu mengungkapkan perasaannya dan ternyata cowok itu memilih bersahabat pasti akan membuat gadis itu merasa bersalah, menyesal, kecewa, patah hati, maka ia pun salah tingkah saat berdekatan dengan teman cowoknya itu. Gadis itu tak menganggap lagi cowok itu teman akrabnya melainkan cowok asing yang sedang dikaguminya.
4200 detik kemudian,
Aku tak tahu sampai kapan kupendam perasaan ini? Aku tak tahu akan bertahan berapa lama? Aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan? Aku benar-benar tak tahu.
“Puk…” tepukan kecil
merambah rambutku. Membuatku kaget. Aku pun menoleh.
“Aduh..Kheysa, kenapa
malam-malam begini belum tidur? Angin malam buat cewek cantik kayak kamu ini
gak baik. Siapa tahu besok, kamu bakal mirip kayak mumi, dibaluti kain gombal.
Ha..ha..” tertawa kecil menatapku.
Aku tersenyum getir
juga tersipu merah mendengar celotehnya menyebut kata itu. ‘cewek cantik’. Oh
iya, aku pun sadar, sejak kapan ia sudah nongol duduk disampingku(duduk diatas
jendela). “Kau sudah disini dari tadi?” tanyaku pelan. Dia pun mengangguk.
“Kok aku tidak tahu?”
dengan kening berkerut.
“Kamu sih, asik melamun
sendiri. Emang mikir apa sih?”
“E..eh, enggak kok. Gak
mikir apa-apa.” Jawabku terbata-bata. Takut ketahuan.
“Sudah sana, tidur.
Awas kamu kalau aku masih melihat kamu masih melamun disini. Belum tidur juga. Aku
akan berubah menjadi monster yang akan menakuti kamu. Ho..ho..Eh, monster
suaranya kayak sinterklas ya, ha..ha..” tawanya lagi.
Ah, seandainya saja
engkau tahu, kau sangat manis sekali saat tertawa, deretan putih gigi itu,
bibir merah merona, matanya yang coklat redup, guratan garis wajah yang
sempurna, alis hitamnya yang berderet, dan Ah, PERFECTO.
Aku hanya tersenyum
masam. Dengan gelak tawanya yang seperti ini, cukup memberitahuku kalau ia
pasti sangat gembira dengan malam kencannya. Pasti. Aku menelan ludah pahit.
Tiba-tiba, Dia terdiam.
Menoleh kemudian menatapku, memandangku. Lama sekali. Aku gugup. Tanganku
gemetar ditambah lagi keringat dingin yang keluar membasahi telapakku. Suara
kerikan jangkrik diam begitu saja, kodok malah ikut-ikutan, membuat suasana
bertambah sunyi. Semuanya benar terasa sunyi, waktu terasa berhenti, semua
bunyi senyap seketika. Membiarkan aku terbunuh oleh tatapan itu. Tetap tak
bergerak. Ia masih menatapku dalam-dalam. Aku juga menatapnya tapi aku tak
sanggup bergerak sedikitpun. Gemetar seluruh tubuhku gemetar. Keringat dingin
yang keluar makin membuat telapak tanganku basah kedinginan. Tatapan itu
membunuhku, menghunjam panah-panahnya kearahku.
Belum..belum masih lama
ia menatapku. Akhirnya..
Dia mengangkat tangannya, lalu apa yang terjadi? Menggenggam tanganku. Hangat.
“Kau sakit. Tanganmu
dingin sekali, sebaiknya kau segera tidur.” Katanya dengan nada penuh
perhatian. Aku tak membalas.
Ia pergi. Pergi
melangkah meninggalkanku. Meninggalkanku sendiri disini. Ditemani kesunyian.
Sangat kesepian. Menggigit bibirku, sakit. Iya aku mencoba agar tidak menangis
melihat ia melangkah pergi. Dengan menggigit bibir. Tetap saja. Butiran bening
itu sudah berlayar membasahi bingkai wajahku. Tak sanggup ku hentikan. Tak
sanggup.
Dreaming
about the day when you
wake up and find . That what
you're looking for
has been here the whole time.
sss
Tidak ada komentar:
Posting Komentar