Rabu, 11 September 2013

You Belong With Me (Love story)

Part 1

Mentari tertidur lelap dipusara. Gelap datang membayang. Rembulan dengan sombongnya berpose, menggelayut diangkasa. Selarik dualarik cahayanya menggaris jatuh menghiasi kota. Jutaan paradoks bintang berkelap-kelip melukis angkasa dengan rasi-rasi, berjajar, berbaris, merangkai sesuatu. Sesuatu yang tak akan pernah diketahui. Sesuatu yang amat rahasia. Angin dingin berlari menerabas dedaunan, kayu-kayu usang,mengalun mengalir mengikuti orkestra malam, terus mengalir pelan, rendah, indah, tenang. Belum..belum berhenti. Terus mengalir, hingga memasuki jendela kamarku, menghantam wajahku, menusuk sarafku. Dingin.

“Fiuh..”kuraih jaket hangat disampingku, lalu kukenakan. Bernafas tertahan, mencoba tetap bertahan disini, didepan jendela. Menunggu, berharap ia segera pulang dari kencannya dengan cewek itu, berharap ia segera membuka jendelanya menyapaku kemudian menghiburku malam ini(kos-kosanku dengan kos-kosannya bersampingan, kamar kami juga berhadapan). Sejak tadi, sejak matahari menampakkan batang hidungnya, sejak 15 jam yang lalu, sejak alarm kucingku berdentang 100 kali, sejak itu aku mulai kesepian. Entah mengapa Hari ini sangat sunyi? Padahal jutaan mesin beruap itu berbunyi berisik setiap detikan waktu, hari, bulan. Tak berhenti. Bukan, bukan hariku yang sunyi tapi hatiku, tepatnya.

  Kulirik jam weker dimeja belajarku. Ketiga jarumnya menunjukan pukul 20.30 malam.

“Uh..dia belum pulang juga.”keluhku.
Pikiranku, melayang, terbang, berputar, berputar, memikirkan Dia. Apa yang dia lakukan dimalam kencannya ini? Apakah ia bahagia? Tentu saja. Apakah saat ini ia sedang menyuapi pacarnya itu? Atau bahkan mencium tangannya, atau mungkin mengecup pipinya?

“Ah..”diusap wajahnya dengan telapak tangannya,mencoba menghilangkan pikiran itu. Ia benci, sangat benci memikirkannya, lebih tepatnya sebal dengan gadis itu bukan sama Dia.

Sudah lama, mungkin sudah selama 3 tahun, aku dan Dia berteman sangat dekat, sangat lekat, bahkan rumah kos-kosanku berdekatan, kuliah sama, kelas sama, hobi sama, umur sama, mungkin persamaannya tigaperempat lebih banyak dibanding perbedaannya. Namun sayang, hingga detik ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku padanya, entah ia mempunyai perasaan yang sama atau tidak? Setahuku, Dia orangnya mudah jatuh cinta diam-diam, diam-diam pula menembaknya.

Aku sangat sedih saat aku tahu ia telah berpacaran dengan seorang gadis, padahal saat itu aku ingin mengutarakan perasaanku yang telah kupendam selama ratusan hari. Rasanya sakit, tentu saja, wajar-wajar saja orang yang cinta bertepuk sebelah tangan seperti aku ini merasakan sakit. Masalahnya, itu mengganggu konsentrasi belajarku, membuatku melamun, tersenyum, melamun lagi kemudian menangis. Hal itulah yang menjadi tidak wajar.

“Uh..” bernapas lenguh, uap air keluar dari mulutku bergelung diudara.

1 jam berlalu..

     Sebenarnya, aku ingin sekali mengungkapkan perasaan itu sejak perasaan itu hadir dalam hidupku lewat Dia. Yang jadi penghalangnya, adalah ketakutanku sendiri. Aku takut kalau ternyata ia tidak mencintaiku saat aku mengungkapkannya maka pasti akan membuat persahabatanku dengannya hancur. Atau mungkin banyak hal buruk yang kemungkinan terjadi. Seorang gadis yang berteman amat akrab dengan seorang cowok, lalu gadis itu mengungkapkan perasaannya dan ternyata cowok itu memilih bersahabat pasti akan membuat gadis itu merasa bersalah, menyesal, kecewa, patah hati, maka ia pun salah tingkah saat berdekatan dengan teman cowoknya itu. Gadis itu tak menganggap lagi cowok itu teman akrabnya melainkan cowok asing yang sedang dikaguminya.

4200 detik kemudian,

     Aku tak tahu sampai kapan kupendam perasaan ini? Aku tak tahu akan bertahan berapa lama? Aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan? Aku benar-benar tak tahu.
“Puk…” tepukan kecil merambah rambutku. Membuatku kaget. Aku pun menoleh.
“Aduh..Kheysa, kenapa malam-malam begini belum tidur? Angin malam buat cewek cantik kayak kamu ini gak baik. Siapa tahu besok, kamu bakal mirip kayak mumi, dibaluti kain gombal. Ha..ha..” tertawa kecil menatapku.

Aku tersenyum getir juga tersipu merah mendengar celotehnya menyebut kata itu. ‘cewek cantik’. Oh iya, aku pun sadar, sejak kapan ia sudah nongol duduk disampingku(duduk diatas jendela). “Kau sudah disini dari tadi?” tanyaku pelan. Dia pun mengangguk.
“Kok aku tidak tahu?” dengan kening berkerut.
“Kamu sih, asik melamun sendiri. Emang mikir apa sih?”
“E..eh, enggak kok. Gak mikir apa-apa.” Jawabku terbata-bata. Takut ketahuan.
“Sudah sana, tidur. Awas kamu kalau aku masih melihat kamu masih melamun disini. Belum tidur juga. Aku akan berubah menjadi monster yang akan menakuti kamu. Ho..ho..Eh, monster suaranya kayak sinterklas ya, ha..ha..” tawanya lagi.

Ah, seandainya saja engkau tahu, kau sangat manis sekali saat tertawa, deretan putih gigi itu, bibir merah merona, matanya yang coklat redup, guratan garis wajah yang sempurna, alis hitamnya yang berderet, dan Ah, PERFECTO.

Aku hanya tersenyum masam. Dengan gelak tawanya yang seperti ini, cukup memberitahuku kalau ia pasti sangat gembira dengan malam kencannya. Pasti. Aku menelan ludah pahit.

Tiba-tiba, Dia terdiam. Menoleh kemudian menatapku, memandangku. Lama sekali. Aku gugup. Tanganku gemetar ditambah lagi keringat dingin yang keluar membasahi telapakku. Suara kerikan jangkrik diam begitu saja, kodok malah ikut-ikutan, membuat suasana bertambah sunyi. Semuanya benar terasa sunyi, waktu terasa berhenti, semua bunyi senyap seketika. Membiarkan aku terbunuh oleh tatapan itu. Tetap tak bergerak. Ia masih menatapku dalam-dalam. Aku juga menatapnya tapi aku tak sanggup bergerak sedikitpun. Gemetar seluruh tubuhku gemetar. Keringat dingin yang keluar makin membuat telapak tanganku basah kedinginan. Tatapan itu membunuhku, menghunjam panah-panahnya kearahku.

Belum..belum masih lama ia menatapku. Akhirnya..

     Dia mengangkat tangannya, lalu apa yang terjadi? Menggenggam tanganku. Hangat.
“Kau sakit. Tanganmu dingin sekali, sebaiknya kau segera tidur.” Katanya dengan nada penuh perhatian. Aku tak membalas.

Ia pergi. Pergi melangkah meninggalkanku. Meninggalkanku sendiri disini. Ditemani kesunyian. Sangat kesepian. Menggigit bibirku, sakit. Iya aku mencoba agar tidak menangis melihat ia melangkah pergi. Dengan menggigit bibir. Tetap saja. Butiran bening itu sudah berlayar membasahi bingkai wajahku. Tak sanggup ku hentikan. Tak sanggup.

Dreaming about the day
when you wake up and find .
That what you're
looking for has been here the whole time.

sss

     


   

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar