Kicau burung riuh menyambut pagi, melenguh, memekik, menyanyi. Bersahut-sahutan. Meloncat dari dahan satu kelainnya. Bunga-bunga indah bermekaran, menyebar aroma harum menggoda untuk memetiknya. Pohon-pohon kian bersemi. Butiran es kaca putih sepertinya sudah meleleh. Bongkahan es yang memenuhi daun dan ranting pohon telah mencair. Bulatan-bulatan besar yang mengisi sepanjang aliran sungai telah hilang. Mungkin sudah sejak seminggu lalu. Musim semi sudah datang.
Ya, memang begitu bukan? Roda kehidupan terus berputar, makin lama putaran itu makin cepat. Entah mengapa? Bukankah semuanya terasa cepat?
Mentari bersinar seperti biasa. Bulatan besar merah itu selalu sama tiap paginya. Kalau beda, kan nanti semua orang malah jadi ketakutan bukan? Kegiatan yang sama yang kulakukan setiap paginya, menyiram pot bunga yang tumbuh subur dipekarangan rumahku. Sebenarnya, pekarangan depan rumahku kecil. Tapi, apa salahnya aku tanam beberapa tanaman hias disana. Ada beberapa bunga yang kutanam, mawar, melati, tulip, bougenvile, dahlia, orchid dan bunga liar lainnya.
Kuayunkan selang yang berada digenggamanku mengikuti alur bunga itu. Agar seluruh bunga dapat terbasuh merata. Sehingga, tidak ada yang protes. Topi kecil berpita merah itu membayang menutupi segaris mataku, membiarkan poniku menggantung didahiku. Selaras dengan rok mini sepahaku dan tank top putih yang tertutupi dengan kemeja biru.
Aku bersenandung, ikut bertanding melawan siulan burung diatap rumahku. Sebuah lagu yang sangat kusukai.
“But she wears short skirts I wear t-shirts She's cheer captainer And I'm on the bleachers…”
Lalu, kakiku terhentak-hentak mengikuti melodi lagu yang kunyanyikan. Tubuhku ikut bergoyang, tangan kananku mengepal bak memegang sebuah mik mendekatkan ke mulutku, sedangkan salah satu tanganku memegang selang yang entah airnya membasahi dimana-mana, berguncang-guncang tak jelas. Aku bagaikan disebuah panggung besar. Seluruh fansku berteriak-teriak, menyebut namaku, menangis ingin memelukku. Sorotan cahaya besar berbentuk bundaran mengarahku, menyorotiku dimana pun aku pergi. Puluhan sorotan cahaya berwarna-warni menghiasi panggung itu, membuatnya terlihat megah. Ditambah lagi jepretan ribuan kamera, serta puluhan kamera mengarah padaku, menyutingku. Sekarang, aku bagaikan seorang artis terkenal.
Aku terlalu mengganggap semua itu nyata. Sehingga, tak memerhatikan apa yang terjadi disekitarku? Buktinya, selang yang digenggamanku jatuh tergeletak. Tetap. Aku tak memedulikannya. Aku sampai tak sadar, ada seorang cowok yang berniat jahil padaku sambil tertawa cekikikan melihat tingkah anehku.
Saat diimajinasiku, ketika aku tengah asik-asiknya menyanyi. Tiba-tiba saja ada ceburan air yang jatuh membasahiku, membuat aku basah kuyup. Dan nyanyianku kacau seketika. Dan parahnya ribuan fansku tertawa terbahak-bahak melihatku seperti itu, aku malu. Tapi, anehnya kenapa ada salah satu suara yang sangat kukenali?
Aku pun sadar seketika. Berjarak sejengkal dariku, berdiri seorang cowok yang…
Dia. Tertawa manis puas menggodaku, membuyarku dari imajinasi bodohku. Manis sekali. Lesung pipitnya terbentuk sempurna, wajahnya bercahaya, tatapan mata indahnya, mata biji kecil coklat indah itu. Membuat aku terpaku seketika. Menatap kosong kearahnya, sangat dungu. Tidak memedulikan bajuku telah basah sepenuhnya. Tawa manis itu…manis…sangat manis…seandainya kau itu milikku.
Dia terdiam. Menatapku. Tertawa lagi melihat aku masih diam, sangat terlihat bodoh. Lalu, menyiram selang itu kearahku. Aku pun berteriak keras.
“Aaa…..Rey stop..stop..” sahutku sambil menghalangi air itu dengan menamengnya dengan kedua tanganku.
“Ha..ha..kamu tahu gak? Kalau misalnya aku tak menyirami kamu dengan air, orang lain pasti berpikir kamu mirip orang gila. Ha..ha..” tawanya lagi, menertawakanku. Ia pun menurunkan selang itu. Sebenarnya, ia kasihan melihatku basah kuyup seperti itu. Tapi, itu salahku sendiri sih, joget-joget sendiri kayak orang gila.
Aku pun menatapnya. Tajam. Penuh rasa sebal, dendam. Aku siap membalas perbuatan itu. Ku rampas selang yang ada digenggamannya. Napasku memburu. Kuayunkan selang itu, siap membalasnya.
Cur…cur... air bagai air mancur itu menguncur padanya, membasuh bajunya, mengalir disela-sela badannya lalu turun kekakinya, membasahi wajahnya yang bercahaya itu. Ha..ha.. aku puas sekali. Tertawa senang. Saat senang. Rey terdiam sejenak kemudian tertawa. Tertawa sangat manis dan bahagia.
Akhirnya pun, kami jahil satu sama lain mengambil selang lalu mengarahkan membasahi satu sama lain. Sangat jahil. Tawa buncah. Mekar. Memenuhi hari itu dengan tawa. Tawa indah, senang, menyenangkan, gembira. Bahkan beberapa hewan lain disekitar kami juga jahil melirik kami, saling berbisik, tersenyum kecil, melihat kami berdua. Berdua sangat terlihat lekat, seperti tak dapat dipisahkan satu sama lain. Lebih-lebih, setiap orang yang melihat kami tersenyum bahagia.
Beberapa bunga indah lagi bermekaran, bermekaran ikut juga senang. Parade kupu-kupu indah memenuhi taman bunga kecil. Berputar-putar diatas kami, berpilin, membentuk sebuah bentuk lekukan indah. Yang sangat dikenal oleh seluruh orang didunia. Sebuah Lekukan CINTA. Angsa-angsa berseru indah, melilit lehernya, lagi-lagi membentuk lekukan indah itu. Asik lagi sengaja melirik kami yang tertawa senang. Bunga-bunga kecil tumbuh mekar dipohon menggelayut, membentuk lekukan indah itu lagi. Dan sekali lagi, awan indah, yang cerah diatas kami, bersemu merah, mengalur membentuk lengkukan indah itu. Berpadu menakjubkan dengan beberapa burung mengitarinya, bebas.
Eh, ada yang aneh. Siapa dia? Siapa? Siapa yang duduk menggantung kakinya diatas awan yang bersemu merah itu? Siapa? Apa gerangannya? Mengapa ia memegang sebuah panah? Dan mengapa ia juga memegang busurnya ditangan lainnya? 2 busur. Busur yang indah. Terukir dengan indah pula. Apa yang akan ia lakukan?
Buys… 2 busur itu melesat cepat setelah lepas dari induknya. Melepas cepat. Berpilin sebentar, berputar, mengitari, mengarah, terus melesat dengan cepat lagi. Menyisakan butiran debu merah muda disetiap alurnya. Sehingga, butiran debu merah muda itu menyusun sebuah lengkukan indah pula. Lengkungan indah itu.
Syar..tepat sasaran. Sangat tepat. Menancap. Bersemi dihati kedua jodoh sasaran itu.
Dunia tiba-tiba berhenti. Waktu mendadak berhenti pula. Ketiga jarumnya berhenti di tempat. Seluruh dunia senyap. Sunyi. Semua penghuni dunia tersapu. Menghilang. Terhempas. Dunia mendadak melebar. Meluas. Merubah backgroundnya dengan kebun Ilalang orange yang indah. Tapi, tetap saja semuanya sunyi. Masih senyap.
Menyisakan kedua pasangan sasaran itu.
Aku tak tahu apa yang terjadi? Mengapa semuanya mendadak diam? Mengapa? Mengapa kejadian malam tadi terjadi kedua kalinya? Dunia berhenti berputar, semuanya sepi, tak ada satu pun disekitarku, kecuali Dia. Lagi-lagi. Aku menatapnya dalam-dalam. Tapi, kali ini mukaku tak bersemu merah. Entah? Aku membiarkan Dia juga menatapku, menatap wajahku, menatap mataku, memandangku dari beberapa jengkal dariku. Dia tetap menatapku. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan.
Dia melangkah sejengkal mendekatku.
Mendadak, jantungku berdegup kencang, berpacu cepat, tak karuan. Dan sudah kuduga, mukaku bersemu merah, lebih merah, lebih bersemu. Aku menggigit bibirku.
Dia melangkah sejengkal lagi.
Jantungku makin bercepat berpacu, berdegup sangat kencang, lagi-lagi lebih tak karuan, membuat tubuhku gemetar seketika. Tanganku bergetar, sehingga keringat dingin itu keluar mengaliri membasahi telapak tanganku. Mukaku bertambah merah, macam tomat busuk, pipiku menggembung, bibirku sampai kesakitan karena aku terlalu kuat menggigitnya. Kejadian ini sekali lagi telah terjadi untuk kedua kalinya. Tapi, apakah akhirnya kan sama?
Dia melangkah sejengkal lagi. Sejengkal lagi mungkin ia akan berada tepat dibayangan mataku.
Entah? Aku tak dapat lagi, melukis keadaan yang terjadi padaku. Intinya, semuanya kebanyakan getar, cepat, kencang, gugup, gemetar, basah dan lainnya.
Entah mengapa lagi? Entah? Mengapa dikeadaan seperti ini, yang sepertinya aku bisa mati gila tetap menatapnya? Ia tersenyum. Iya, benar tersenyum. Aku tak bohong. Ia menyunggingkan bibirnya. Sehingga, lesung pipi meronanya terbentuk. Bibirnya agak terbuka, sehingga, gigi putihnya agak terlihat. Membuat bingkai wajah itu bertambah manis.
Sangat manis.
Aduh, kemungkinan jika ia tak menghentikan senyuman manis itu aku benar-benar akan mati. Akan mati gila karenanya. Ah, apa yang harus kulakukan? Aku tak tahan.
Dan saat kejadian romantis itu, saat seluruh dunia senyap seketika, saat ilalang background ilusi itu mengalun lembut, saat angin menderu bersimfoni, saat awan kian memerah, saat penembak busur itu tertawa senang kemudian terdiam tersenyum melirik menatap sasarannya, saat itulah semuanya kejadian romantis itu tersapu, terhapus, menghilang, tak tersisa, hanya pahit.
Ketika Dia akan melangkah kakinya mendekat membayang dimataku sesenti dariku, gadis itu datang, gadis menyebalkan itu datang tidak pada waktunya. Membuyarkan ilusi indah itu. Menghempaskan lekukan indah itu, juga taburannya. Penembak busur itu melenguh kesal, terbang ke angkasa dengan wajah yang sebal. Sebal dengan gadis menyebalkan itu yang telah menggagalkan rencana indahnya.
Aku menoleh kearah gadis menyebalkan itu. Tersenyum masam. Menelan ludah pahit.
Dia tak menoleh kekekasihnya itu. Diam terpaku.
“Sayang..” goda gadis itu. Merujuk manja memeluk lengannya. Kemudian dengan sengaja memeluk Rey didepanku, dihadapanku, didepan mataku. Gadis itu sengaja membuatku iri padanya. Gadis itu pasti tahu kalau aku menyukai Rey. Memeluk Rey erat-erat, memamerkannya padaku.
Aku menelan ludah pahit. Sangat pahit. Kali ini, aku pasti bisa mati karenanya. Karena aku terlalu cemburu melihatnya berpelukan dengan cewek lain. Ah, sakit sekali.
Rey tetap diam. Tapi, ia mencoba tersenyum. Tersenyum getir.
“Sayang, hari ini kita jalan-jalan kemall kan. Sayang janji kan, membelikanku kalung. Kalau begitu, ayo cepat.” Rujuk gadis itu lagi manja.
Ah, entahlah? Sepertinya, hatiku telah berdarah-darah tercabik-cabik. Tercabik-cabik oleh perkataan itu. ‘Sayang.’ Padahal, dulu tiga tahun lalu, aku yang bermimpi ingin mengucapkan kata manja itu pada Dia. Sekarang, aku harus menelan kenyataan pahit ini. Menelan kata-kata itu mentah-mentah.
Mereka pun melangkah pergi. Pergi meninggalkanku. Yang menelan pahit semua kenyataan ini. Membiarkan aku hanya menghayal-hayal keinginan kosong. Meninggalkan aku dengan kesendirianku. Meninggalkanku hanya dengan selang itu, yang masih saja mengalir air pelan keluar darinya, tergeletak. Yang lebih menyakitkan, meninggalkanku dengan hati yang berdarah-darah beribu tercabik. Uh….
Gadis menyebalkan itu sengaja lagi melirik kearahku. Menatapku sinis. Tersenyum prihatin. Bukan prihatin melihat aku patah hati. Tapi, prihatin karena aku kurang cantik sehingga Rey tidak menyukaiku.
Aku menatap kepergian mereka. Mencoba bertahan untuk tetap menunggu. Tetap menunggu Rey sadar, kalau Dia itu hanya milikku. Aku akan tetap menunggu meski semuanya akan berjalan pahit. Menunggu hingga Rey sadar.
Ternyata, akhir kejadian ini sama untuk kedua kalinya lagi. Ah,,,
If you could see That I'm the one
Who understands you
Been here all along So why can't you see
You Belong With Me,
You Belong With Me?
? ? ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar