“Ririiiinn... ayo cepat keluar!” terdengar suara teriakan wanita
yang lembut. Bumi semakin kencang bergoyang. Mungkin bumi ini asyik bergoyang
karena di tambah suara dangdut dari teriakan dan jeritan orang-orang.
Atap,dinding,dan segala isi rumahku berjatuhan dan tak beraturan. Aku semakin
takut. Namun, aku coba kuat untuk keluar. Lama-lama, aku merasa pusing.
Sampailah aku di depan pintu. Saat aku hendak melangkahkan kaki ku untuk
keluar, tembok di sebelah kiri daun pintuku tiba-tiba jatuh. Namun, tangan kiri
ku segera di tarik oleh ibuku. Sehingga tangan kanan ku lah yang terjatuhi tembok.
Al-Qur’an ku pun jatuh tak terpegang oleh tanganku lagi.
“Ririn, kamu nggak
papa kan?” tanya ibuku panik. “Ngga kok bu” aku merasa pegelangan tangan kanan
ku sulit digerakkan. Dan aku merasa hampa di genggaman tanganku. “Ada apa Rin?”
tanya Dwi sambil memegang tangan kananku yang mengalir darah. Aku merintih
kesakitan. “Ya Allahh ...” aku terus merintih karena tak bisa menahan rasa
sakit ku di tangankanan ku. Hingga aku pun tak sadarkan diri.
“Ririinn” terdengar
isak tangis ibuku di sampingku. Aku pun segera sadar. Pecah-pecah gambar masa
laluku lewat begitu saja. Termasuk wajah ayahku yang paling jelas. Ketika aku
membuka mata, tangan kanan ku terasa kaku. Dan aku melihat aku berada di
ranjang rumah sakit. Terlihat ibuku terus menangis di sampingku. “Buu..” aku
memanggil ibuku. “Iya nak ..” “ ayah mana
bu ? Kenapa ayah nggak pulang bu? Apa ayah belum tahu kalau aku ada di sini
bu?” aku tanya begitu saja. Mendengar ucapanku, semakin deras air mata ibu
mengalir dari matanya yang redup.
“Ayah, ada nak..
dia belum sampai di sini.” Jawab ibu. Aku pun sedikit tenang. “Apa yang
sebenarnya terjadi?” gumam ku. Aku lihat, tanganku kaku. “Ini semua pasti
gara-gara gempa kemarin. Ini salah Allah. Kenapa ia tega? Ha? Kenapa ia
membiarkan surat cintaku lenyap? Padahal itulah yang aku punya? Apa Allah
menghancurkan semua impianku? Apa Allah murka? Kenapa tidak orang-orang
kafir,yang menyekutukannya tidak di beri beban sepertiku? Kenapa hanya aku? Aku
benci Allah” aku terus bergumam. Emosiku pun menaik. Dan ku tunggu kenapa ayah
tidak kunjung datang?
“Bu, kapan ayah
datang? Kapan pula aku pulang?” aku menghentak ibuku. Mungkin saat itu aku
sangat emosi dan khilaf. Emosiku terus naik. Mungkin itu semua karena rasa yang
saat itu sedang aku rasakan. Ibuku terus diam dan tak menjawab. Hingga akhirnya
ia keluar dengan air mata yng mengalir begitu deras.