Kamis, 27 September 2012

SURAT CINTA YANG TERMULIA part 2


“Ririiiinn... ayo cepat keluar!” terdengar suara teriakan wanita yang lembut. Bumi semakin kencang bergoyang. Mungkin bumi ini asyik bergoyang karena di tambah suara dangdut dari teriakan dan jeritan orang-orang. Atap,dinding,dan segala isi rumahku berjatuhan dan tak beraturan. Aku semakin takut. Namun, aku coba kuat untuk keluar. Lama-lama, aku merasa pusing. Sampailah aku di depan pintu. Saat aku hendak melangkahkan kaki ku untuk keluar, tembok di sebelah kiri daun pintuku tiba-tiba jatuh. Namun, tangan kiri ku segera di tarik oleh ibuku. Sehingga tangan kanan ku lah yang terjatuhi tembok. Al-Qur’an ku pun jatuh tak terpegang oleh tanganku lagi.
        “Ririn, kamu nggak papa kan?” tanya ibuku panik. “Ngga kok bu” aku merasa pegelangan tangan kanan ku sulit digerakkan. Dan aku merasa hampa di genggaman tanganku. “Ada apa Rin?” tanya Dwi sambil memegang tangan kananku yang mengalir darah. Aku merintih kesakitan. “Ya Allahh ...” aku terus merintih karena tak bisa menahan rasa sakit ku di tangankanan ku. Hingga aku pun tak sadarkan diri.
        “Ririinn” terdengar isak tangis ibuku di sampingku. Aku pun segera sadar. Pecah-pecah gambar masa laluku lewat begitu saja. Termasuk wajah ayahku yang paling jelas. Ketika aku membuka mata, tangan kanan ku terasa kaku. Dan aku melihat aku berada di ranjang rumah sakit. Terlihat ibuku terus menangis di sampingku. “Buu..” aku memanggil ibuku. “Iya nak ..” ayah mana bu ? Kenapa ayah nggak pulang bu? Apa ayah belum tahu kalau aku ada di sini bu?” aku tanya begitu saja. Mendengar ucapanku, semakin deras air mata ibu mengalir dari matanya yang redup.
        “Ayah, ada nak.. dia belum sampai di sini.” Jawab ibu. Aku pun sedikit tenang. “Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam ku. Aku lihat, tanganku kaku. “Ini semua pasti gara-gara gempa kemarin. Ini salah Allah. Kenapa ia tega? Ha? Kenapa ia membiarkan surat cintaku lenyap? Padahal itulah yang aku punya? Apa Allah menghancurkan semua impianku? Apa Allah murka? Kenapa tidak orang-orang kafir,yang menyekutukannya tidak di beri beban sepertiku? Kenapa hanya aku? Aku benci Allah” aku terus bergumam. Emosiku pun menaik. Dan ku tunggu kenapa ayah tidak kunjung datang?
        “Bu, kapan ayah datang? Kapan pula aku pulang?” aku menghentak ibuku. Mungkin saat itu aku sangat emosi dan khilaf. Emosiku terus naik. Mungkin itu semua karena rasa yang saat itu sedang aku rasakan. Ibuku terus diam dan tak menjawab. Hingga akhirnya ia keluar dengan air mata yng mengalir begitu deras.

1 komentar: