Saatnya aku kembali pulang. Namun, sekarang aku hanya tinggal di
sebuah penginapan. Begitu pula Dwi. Harusnya aku bersyukur, namun, kali ini aku
tak lagi mengenal rasa syukur. Entah apa yang buat aku berubah drastis. Kini
kelakuan ku hampir sama dengan anak Punk atau anak jalanan yang tak tahu agama.
Padahal sebelumnya, aku tak mengenal mereka semua. Namun sekarang, hampir semua
sifatnya melekat pada diriku. Ada apa sebenarnya dengan ku?
5 bulan
berlalu,namun aku masih tetap hidup di penginapan yang makin lama makin banyak
orang yang memilih hidup di situ. Sifat ku yang kini terus melekat di jati
diriku. Aku tak mengenal lagi yang namanya ngaji. “Rin, sholat maghrib yuk?”
ajak Dwi padaku. Aku tak langsung menjawab. Aku hanya menoleh ke arah Dwi
dengan tatapan malas dan bikin darah naik. Namun Dwi tetap mengajak ku walau
sekian hari sudah aku tolak mentah-mentah ajakannya untuk mengerjakan kebaikan.
“hhh?? Manghrib?
Ngapain? Emang penting? Loe aja sendiri sana! Males banget!!” begitu kasarnya
aku menjawab ajakan Dwi yanag sehalus sutra. Dwi menjawab dengan senyum tenang.
Karakternya yang sendu kian terlihat cantik nya. “Oh, ya udah deh. Oh ya,
besok,ada jalan sehat yang di adakan di penginapan ini. Kamu ikut ya Rin. Kalo
kamu ngga ikut, ntar nyesel.” Jawab Dwi sambil meninggalkan ku sendiri. Aku
merespinnya dengan sikap acuh tak acuh. “emtt.. boleh juga ikut jalan sehat”
gumamku.
Esok pun tiba.
Matahari menyambutku dengan senyumnya yang hangat untuk di sambut. “Hoamm..”
aku pun bergegas mandi. “Bu? Ikut jalan sehat?” tanyaku pada ibu dengan nada
yang tidak sopan. Namun, ibu terus memaklumi ku. Tapi, ibu tak menjawab
pertanyaan ku. Ia berlalu bergitu saja. “Eee.. di tanya anak, diem aja.”
Kuceploskan kata-kata tidak sopan itu begitu saja tanpa merasa dosa.
“Yaa.. durprise
kali ini, dimenangkan oleh nomor undian kosong,satu,sembilan” kakak relawan
menyebut nomor undianku. Namun, aku sedang tidak konsentrasi. Sehingga aku tak
tahu kakak relawan bilang apa. “Eh,Rin, itu kan nomor mu? Maju sana gih”
panggil Dwi mengagetkan ku, namun refleks, aku maju untuk menerima bingkisan.
Bingkisan itu cukup indah. Lumayan besar. Dan membuat penasaran semua orang
yang ada di situ.
Hatiku behagia.
Namun, aku tak bersujud syukur. Aku melupakan semua ajaran agama. Naluri ku
mengatakan, untuk membuka bingkisan itu saat sudah di penginapan saja. Sehingga
aku punya rasa sayang pada bingkisan itu. “Selamat ya Rin. Jangan lupa nanti
kasih tau aku ya, apa isinya” kata Dwi dengan mengulurkan tangannya di sertai
melempar senyum nya yang amat manis. Aku hanya menjawab dengan senyum terpaksa.
Setelah aku buka,
ternyata berisi mukena dan kitab suci Al-qur’an. Namun aku tak kaget dengan
itu. Aku ingin berniat untuk mengasihkannya pada Dwi atau orang lain. Namun,
pikiran ku berhasil mencegah kelakuan ku. Hanya ku geletakkan begitu saja itu
semua. Namun, rasa sayang untuk merawatnya selalu ada di benakku.
“Bu,sebenarnya ayah
kemana sih? Katanya, waktu aku di rumah sakit, ia baru perjalanan pulang dari
Jakarta. Buktinya? Sampai sekarang nggak ada. Ibu tahu? Aku kangen banget bu
sama ayah. Biarkan ia tahu luka di tangan ku ini. Aku ingin di belai ayah lagi.
Aku nggak mau kalau belaian terakhir ayah yaitu saat aku kelas 5 SD. Apa ibu
juga nggak kangen?” aku meluluhkan itu semua dengan polos. Ibuku menangis.
Namun aku menghiraukannya. “A..a..ayah..m..u meninggal saat gempa Rin.” Jawab
ibu setelah mengulur waktu cukup panjang. Air mata pun kembali menetes dari
mata ibu yang sembab.
Aku tercekat. Ingin
menangis nggak bisa. Namun aku langsung meninggalkan ibi sendirian di depan TV.
Aku lari ke luar rumah. Sampai di luar, air mata ku baru bisa menetes. Aku
bergeregetan, kanapa air mata ku tidak jatuh saat aku di depan ibu? Biar ibu
tahu perasaan ku. Aku berfikir, Allah memang tak adil dan selamanya mungkin tak
akan pernah adil. Ia tak tahu perasaan ku? Katanya ia tuhan paling mulia?
Kenapa kenyataannya ia selalu bikin gulita pandanganku? Kenapa? “AAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHH....!!!!!!!!!!”
aku menjerit begitu saja tanpa mempedulikan orang di sekitarku. Aku langsung
berlari ke rumah dan ke kamar. Aku menangis sampai 3 jam. Rasaku sungguh mati.
Sampai-sampai aku lemas. Aku tak kuat lagi untuk menangis dan berteriak.
“Ada apa dengan
Ririn bu?” tanya Dwi pada ibuku yang terus menangis. Aku pun tak kuat dan
pingsan. Kepalaku terbentur lantai cukup keras. Karena Dwi tak sabar dan panik,
ia mendobrak pintu kamarku. “Astagfirullah” ia kaget melihatku yang tergeletak
dengan berlumuran darah di kepala. “Ibu... Bu Ani” panggil Dwi pada ibunya dan
pada ibuku. Lagi-lagi aku masuk Rumah Sakit. “Ananda Ririn amnesia bu” kata pak
dokter pada ibuku. Ia sangat terpukul.
2 minggu sudah aku
di rumah sakit. Dan sekarang waktunya aku untuk kembali ke penginapan. Aku tak
teringat apa pun kecuali ibu dan Dwi. Juga ayah yang telah tidur meninggalkan
luka pada ku. Karena sayang sahabat ku,Dwi yang sangat mendalam, ia rela
meninggalkan ibunya dan memilih tinggal dengan ku.
“Rin, sekarang kamu
lihat ini” kata Dwi dengan menyodorkan sebuah kitab suci Al-Qur’an padaku.
Bayang semu dan cahaya hitam putih melintas di pikiran ku. Hati ku bergetar
seketika. Rasa pusing tak bisa ku tahan. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
“Haii” sapa Dwi
dangan melambaikan tangannya saat aku sadar. Aku pun tersenyum ringan.
“Wi,ambilkan buku yang kau kasihkan pada ku tadi.” Kataku pada Ririn. Ia kaget.
Mengapa begitu lembutnya aku pada nya. Namun, tanpa mengulur waktu ia mengambil
Al-Qur’an dan memberikannya padaku. Langsung ku dekap Al-Qur’an itu dan ku cium
beberapa kali. Aku pun tertidur lagi. Orang-orang yang melihat kelakuan ku
heran sekali. Aku teringat bahwa aku menyebut Al-Qur’an dengan kata surat cinta
yang termulia dari Allah SWT.
Sorenya, aku sholat dan aku
langsung teringat akan ilmu tajwid. Aku membaca Al-qur’an dan berdo’a pada
sholat isya cukup lama di banding Dwi. Aku berdo’a kepada Allah agar memasukkan
ayah ku ke sisi termulia-Nya, dan mengasihi ibuku selalu dan banyak lagi.
Hingga larut malam. Aku pun juga merasa ngantuk. Ku cium kening ibu,kening Dwi
beberapa kali. “Aku taubat” gumam ku dengan senyum-senyum sendiri. Sebelum
tidur, aku wudhu dahulu. Karena aku belum ngantuk sehabis wudhu dengan tujuan
bahwa aku ingin sholat Tahajud nanti tanpa wudhu lagi. Namun, tak sadar aku
ngantuk. Ku cium dan kupeluk Al-Qur’an ku. Dengan bantal mukena ku, aku
terlelap tidur dengan mendekap sebuah surat cinta ku. Hingga aku lelap dalam
tidurku dan tak bisa bangun melihat esok ku lagi. Namun aku bersyukur, aku tak
mengalami suatu kesialan sebelum mengakhiri hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar