Selasa, 19 Februari 2013

Indonesia,bukan Korea !

Indonesia, bukan Korea !

“Assalamu’alaikum !” Embun pagi sudah melesat di ujung kehidupan dunia. Senyum sapa mulai terlontar dari birbir satu ke lainnya. Mentari pagi pun tak kalah. Ia mulai membangunkan insan-insan yang masih mengeyakkan tidurnya. Harum masakan restoran sudah terbuka. Tercium sudah dari jalan raya serbak asap montor yang melintas cepat saat itu. Harum minyak wangi para artis sudah memenuhi ruang make up pagi itu. Para pejabat sudah menyandang jas dan berangkat ke kantor dengan mobil meluncur mewah membuat para jalanan terkesima melihatnya. Pohon mulai bersenandung pelan jua. Semua itu sudah menandakan pagi sudah dimulai.
“Wa’alaikumsalam” jawab Ibu Benedy pelan melepas kepergian anaknya untuk menimba ilmu. Tapatnya di Sekolah Jung Jae, Korea Utara. Perang dingin masih ada sisanya sejak 1 tahun lalu berperang dengan Korea Selatan. Ya, Benedy pemikir negara atau politikus. Walaupun ia masih menjadi siswa SMP. Jadi, ia bertabah hati karena ayahnya direnggut nyawanya oleh sepucuk pedang tajam. Walaupun hari-harinya dipenuhi dengan kekacauan hati dan dendam hati, ia tetap selalu tampak ceria dnegan lesung pipit di sisi kiri yang mendecakkan pipinya.
***  
 “Sudahlah, loe ini sakit. Jangan kau paksakan masuk sekolah. Atau, gue panggil-kan ibumu untuk datang ke sekolah?” paksa Ae Run padanya.
“Tidak! Aku nggak kenapa-kenapa Ae.” Tolak Bened mentah-mentah untuk tawaran teman sebangkunya yang tampan.
“Ya, kali ini, loe yang menang. Tapi, kalau masalah keras kepala. Emang loe jagonya. Hehehe”
Hanyut lagi dalam kerenungan. Bunga dalam pot kelas disamping Bened bergoyang menggemaskan. Sedang Bened hanya menatap kosong. Ia khawatir akan ibunya yang dirumah sendirian. Bagaimana kalau tentara dari Korea Selatan tiba-tiba datang dan menyatakan perang lagi dengan Korea Utara. Setelah setahun lalu Korea Utara dinyatakan kalah. Memang belum senormal pikiran orang dewasa pikiran Bened. Namun, setidaknya ia punya gambaran bagaimana menggantikan seorang ayah untuk menjaga ibunya dirumah.

***
“Wah.. Produk Korea tuh!” mata seorang siswa membulat saat membaca Majalah Hariannya. Ia menelusuri deskripsi tentang produk yang baru saja dilihatnya.
“Lihat Wan! Bangun! Yaelah, lu tidur mulu sih!” teriak Benedy membangunkan mimpi indah Benedy pulang sekolah itu. Sudah biasa, setiap pulang sekolah Wawan kerumah Benedy untuk menghabiskan waktu untuk surfing internet lah, nge-game, dan budaya-budaya mereka yang sudah membudaya di lungkungan mereka.
“Apaan sih?” mata Wawan mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat jelas.
“Ini nih. Produk Korea. Sepatunya bagus ya! Kaya punyanya Do-do-.. kata Tia kemarin apa? Member suju itu loh! Do-do-donghae! Ya!” ujar Benedy polosnya. Ia tersenyum lebar pada Wawan yang sebenarnya ingin mengucap kata astaghfirullah. Bukan! Wawan bukan seorang religius.
“Ya Allah! Coba lihat produk Indonesianya. Di situ ada nggak? Bandingin dulu dong!”
“Ya nggak lah. Gue bosen ama produk Indonesia. Bisanya cuma bajak, bajak, dan bajak! Apa nggak ada ide lain apa? Kadang juga malah barang selundupan. Kualitasnya juga, akh! Liat aja para artis, apa ada yang pake produk Indonesia? Para pejabat juga udah pake Jas. Yang pastinya itu budaya asing. Jadi, rakyatpun bebas jelajah produk luar negeri dong!”
Wawan hanya mendengus pelan. Berpikir. Betul juga kata Benedy. Tapi,.. sejelek itukah negara Indonesia Raya dipandang rakyatnya sendiri? Bukankah mereka berdarah ibu pertiwi?
“Ah! Kamu. Mimpi apa kamu semalam?” tanya Wawan sambil meraih buku Geografinya. Ia sebenarnya ingin menegur Benedy yang lupa akan tanah airnya.
“Elu tuh ya. Yang dipikkir Cuma mimpi dalam tidur. Nggak papa lah. Tidur juga ibadah kok Wan!” Benedy hanya nyengir. Ia berlaga sok dewasa sambil mengelus rambut keriting Wawan. Wawannya hanya diam cengoh melihat tingkah laku teman baiknya.
“Gue mimpi. Mmm..” bola mata hitam Benedy berputar. Mencoba mengingat mimpi semalam. Ya! “Gue itu di Korea. Nah, gue ditinggal papa gue karena ia tertusuk pedang saat perang dengan Korea Selatan. Waeyo? Mwo? Aku Juga nggak tau. Gue nggak punya saudara yeoja ataupun namja. Gue punya dendam untuk Korea Selatan.” Jelas selkali. Panjang lebar. Wawan yang tadinya ingin mengerjakan Prnya. Malah antusias mendengar cerita Benedy. Ia seperti waktu diajak ayahnya di Madura melihat Karapan Sapi.
“Oh ya Wan. Nama kamu bukan nama Madura. Berubah jadi nama Korea. Namaanyaa....” lagi-lagi Benedy ngaco. “A-.. Ae-.. Ae Run! Ya, Ae Run. Keren kan Wan? Logat lo nggak logat Madura loh.. logat Korea.”
Wawan tercekat. Sebegitu lupa kah anak disampingya itu berpikir luas tentang Korea? Otak Korea kah? Bagaimana dengan pelajaran PKN Benedy? Pelajaran Seni Tari nya?
                                                   ***            

“Ayo, Benedy. Sebutkan Tarian dari Papua” tanya bu Ani pagi itu. Mata hitam Benedy yang khas hanya membulat beberapa kali. Tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Eee..emm..” ia menyenggol siku Wawan yang tak berkutik. Yang sedang berpikir lupakah Benedy? Atau sedang memikirkan Korea? Mata Benedy yang bulat melirik ke arah Wawan.
“Wawan, bantu teman mu!” kata-kata bu Ani membuyarkan pikirannya. Pulpen yang dipegangnya dilepaskan. Entah, ia menulis apa.
“Ergh.. Tari Raupe, Ura, ergh.. Ma-ma-..” Wawan gugup. Ia sedikit bangga akan dirinya yang masih ingat akan pelajaran minggu kemarin. “Ma- Ma-pi-a!” ia tersenyum lebar. Benedy yang melihatnya berkata terbata-bata mengacungkan jempol untuk teman karibnya. Ia juga bangga. Entah apa maksutnya.
                                       ***                                
Lagu kebangsaanku Indonesia Raya. Benderaku merah putih. BAHASAKU BAHASA INDONESIA. Lihat! Para orang-orang asing mengincar budaya kita! Mulai dari keroncong, pakaian adat kita, dan tari kita. Juga masih banyak. Bandingkan dengan negara lain. Apakah mereka punya sebanyak itu? Itu anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Lihatlah! Indonesia punya tambang yang banyak sekali. Tambang yang menjadi kebutuhan pokok keluarga para negara-negara didunia. Lihatlah Freeport! Itu milik Indonesia bukan? Hanya saja orang-orang Indonesia BELUM BISA mengolah sendiri. Tidak! Aku tidak tahu apakah itu benar bahwa Indonesia tidak bisa mengolahnya sendiri. Apakah budaya Indonesia tidak kalah penting di bola mata Dunia? Apakah salah mencintai negara In.............
Ora mbaca majalah Korea lagi ya, Ben?” tanya Wawan dengan logat Maduranya lagi. Bocah pindahan 5 tahun ini masih belum melupakan bahasa daerahnya. Bahkan ia masih sering nge-chat teman lamanya di Madura. Ia menanyakan tentang suasana saat panen garam.
“Erghh..” Benedy gugup. Ia refleks memeluk Wawan dan menangis. Di kamar Benedy itulah pertama kali Wawan melihat Benedy menangis tersedu. Di sisi lain. Tampak bendera merah putih di atas tiang yang berada di sekolah Wawan dan Benedy berkibar lembut. Memberi simbol agung nya negara ini. Memberi simbol memberi maaf pada siapa saja yang menghina dirinya.
Tanpa mengucap apa-apa, Benedy membuang semua majalah-majalah yang diangggapnya tidak penting lagi.
“Loh. Kok dibuang to, Ben? Go Green dong! Kamu kenapa to?” tanya Wawan yang seperti orang linglugng melihat kelakuan temannya.
“Makasih wan. Kamu udah nulis ini!” Benedy pun menjawab sambil menyodorkan selembar kertas tulisan Wawan saat di sekolah tadi. Biar aku lanjutkan ya Wan !
Benedy melanjutkan tulisan “In...........” yang belum sempat dituliskan Wawan saat dia di sekolah karena ia dipanggil Bu Ani tadi. Tampak Benedy dengan semangat menuliskan :
INDONESIA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar