“Ayo sholat magrib Rin” ajak Dwi padaku. “Ayo” jawabku dengan
semangat. Seperti biasa, kita berdua sholat berjamaah berdua di rumahku atau di
rumah Dwi .
Memang sangat dekat rumahku dengan
sahabatku itu. Hanya sampingku tepat. Untuk mempererat hubungan bersahabat, kita
sengaja ngaji dan mengerjakan perintah Allah SWT bersama. Hingga aku dan Dwi
seperti kakak beradik .
“Audzubillahi minisyaitani rojim ,bismilahirahmanirohim “ aku
dan Dwi memulai membaca Al-Qur’an bersama. Kita sering berbagi bersama tentang
agama kita. Ya, tak lain adalah Islam. Kita terkadang satu pikiran. Kita
memikirkan masa depan yang berharap akan di ridhoi Allah SWT. “Hidup kita
rasanya kok nggak adil ya Wi’. Kita sudah berusaha menabung semaksimal
mungkin untuk membeli Al-Qur’an baru, tapi tetap saja ada halangan. Sehingga
kita harus menggunakan uang tabungan untuk keperluan mendadak. Kenapa Allah
(SWT) begitu teganya ya Wi” aku mulai curhat pada Dwi sehabis selesai membaca
Al-Qur’an bersama.
Dengan tetap
berwibawa dan tenang, Dwi menghela napas panjang-panjang. Sahabatku yang cantik
dan sabar itu tetap masih mau menerima keluhanku yang terkadang membosankan
bagiku. “Ssst.. Ririn sayang, jangan mengkufuri nikmat gitu dong. Itu berarti,
Al-Qur’an kita yang sekarang masih bagus. Tenang aja, pasti kita bisa beli
Al-Qur’an yang jauh lebih baik dari yang kita inpikan saat ini. Itu juga
berarti, Allah mengajarkan kita untuk hemat. Oke !” saran Dwi begitu luar biasa
bagiku. Disaat seperti ini, masih bisa juga ia bisa membuatku tersenyum. Dia
begitu tegar.
“Ririn.. ayo keluar
! Ada gempa nih !” terdengar di telingaku suara ibu yang berteriak dari kamarnya.
Aku pun tersentak. Aku rasa kamarku terus bergoyang di malam-malam pukul 22.34
itu. Sehingga pulau kapukku itu memaksaku untuk segera bangun dan keluar.
Apakah Allah SWT murka terhadapku karena aku telah mengkufuri nikmatnya ? Dengan
refleks, aku membuka mataku. Ku lihat surat cinta termulia di hidupku terjatuh.
Aku takut kalau surat cintaku itu akan pudar. Apa lagi kalau bukan surat cinta
dari penciptaku. Yaitu Al-Qur’an.
Dengan refleks, aku
mengambil Al-Qur’an ku itu. Walau aku ingin sekali menggantinya, tapi, itu
surat cinta termuliaku. Aku tidak akan pernah meremehkannya. Insya Allah. Walau bumi terus bergoncang, aku akan tetap
meraih surat cintaku. Bumi terus bergoyang, seakan tak memberi kesempatan
padaku untuk bisa mengambil surat cintaku. “Bruukk” sebongkah jatuhan dinding
rumahku jatuh menindih Al-Qur’an ku. Aku tak rela. “Nah,dapat” akhirnya bisa
aku pegang lagi surat cintaku. Aku langsung menciumnya. Tanpa mengulur waktu,
aku langsung menuju keluar ikut ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar