Indonesia,
bukan Korea !
“Assalamu’alaikum
!” Embun pagi sudah melesat di ujung kehidupan dunia. Senyum sapa mulai
terlontar dari birbir satu ke lainnya. Mentari pagi pun tak kalah. Ia mulai
membangunkan insan-insan yang masih mengeyakkan tidurnya. Harum masakan
restoran sudah terbuka. Tercium sudah dari jalan raya serbak asap montor yang
melintas cepat saat itu. Harum minyak wangi para artis sudah memenuhi ruang make
up pagi itu. Para pejabat sudah menyandang jas dan berangkat ke kantor dengan
mobil meluncur mewah membuat para jalanan terkesima melihatnya. Pohon mulai
bersenandung pelan jua. Semua itu sudah menandakan pagi sudah dimulai.
“Wa’alaikumsalam”
jawab Ibu Benedy pelan melepas kepergian anaknya untuk menimba ilmu. Tapatnya
di Sekolah Jung Jae, Korea Utara. Perang dingin masih ada sisanya sejak 1 tahun
lalu berperang dengan Korea Selatan. Ya, Benedy pemikir negara atau politikus.
Walaupun ia masih menjadi siswa SMP. Jadi, ia bertabah hati karena ayahnya
direnggut nyawanya oleh sepucuk pedang tajam. Walaupun hari-harinya dipenuhi
dengan kekacauan hati dan dendam hati, ia tetap selalu tampak ceria dnegan
lesung pipit di sisi kiri yang mendecakkan pipinya.
***
“Sudahlah, loe ini sakit. Jangan kau paksakan
masuk sekolah. Atau, gue panggil-kan ibumu untuk datang ke sekolah?” paksa Ae
Run padanya.
“Tidak!
Aku nggak kenapa-kenapa Ae.” Tolak Bened mentah-mentah untuk tawaran
teman sebangkunya yang tampan.
“Ya,
kali ini, loe yang menang. Tapi, kalau masalah keras kepala. Emang loe jagonya.
Hehehe”
Hanyut
lagi dalam kerenungan. Bunga dalam pot kelas disamping Bened bergoyang
menggemaskan. Sedang Bened hanya menatap kosong. Ia khawatir akan ibunya yang
dirumah sendirian. Bagaimana kalau tentara dari Korea Selatan tiba-tiba datang
dan menyatakan perang lagi dengan Korea Utara. Setelah setahun lalu Korea Utara
dinyatakan kalah. Memang belum senormal pikiran orang dewasa pikiran Bened.
Namun, setidaknya ia punya gambaran bagaimana menggantikan seorang ayah untuk
menjaga ibunya dirumah.
***
“Wah..
Produk Korea tuh!” mata seorang siswa membulat saat membaca Majalah Hariannya.
Ia menelusuri deskripsi tentang produk yang baru saja dilihatnya.
“Lihat
Wan! Bangun! Yaelah, lu tidur mulu sih!” teriak Benedy membangunkan mimpi indah
Benedy pulang sekolah itu. Sudah biasa, setiap pulang sekolah Wawan kerumah
Benedy untuk menghabiskan waktu untuk surfing internet lah, nge-game,
dan budaya-budaya mereka yang sudah membudaya di lungkungan mereka.
“Apaan
sih?” mata Wawan mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat jelas.
“Ini
nih. Produk Korea. Sepatunya bagus ya! Kaya punyanya Do-do-.. kata Tia kemarin
apa? Member suju itu loh! Do-do-donghae! Ya!” ujar Benedy polosnya. Ia
tersenyum lebar pada Wawan yang sebenarnya ingin mengucap kata astaghfirullah.
Bukan! Wawan bukan seorang religius.
“Ya
Allah! Coba lihat produk Indonesianya. Di situ ada nggak? Bandingin dulu dong!”
“Ya
nggak lah. Gue bosen ama produk Indonesia. Bisanya cuma bajak, bajak, dan
bajak! Apa nggak ada ide lain apa? Kadang juga malah barang selundupan.
Kualitasnya juga, akh! Liat aja para artis, apa ada yang pake produk Indonesia?
Para pejabat juga udah pake Jas. Yang pastinya itu budaya asing. Jadi,
rakyatpun bebas jelajah produk luar negeri dong!”
Wawan
hanya mendengus pelan. Berpikir. Betul juga kata Benedy. Tapi,.. sejelek
itukah negara Indonesia Raya dipandang rakyatnya sendiri? Bukankah mereka
berdarah ibu pertiwi?
“Ah!
Kamu. Mimpi apa kamu semalam?” tanya Wawan sambil meraih buku Geografinya. Ia
sebenarnya ingin menegur Benedy yang lupa akan tanah airnya.
“Elu
tuh ya. Yang dipikkir Cuma mimpi dalam tidur. Nggak papa lah. Tidur juga ibadah
kok Wan!” Benedy hanya nyengir. Ia berlaga sok dewasa sambil mengelus rambut
keriting Wawan. Wawannya hanya diam cengoh melihat tingkah laku teman baiknya.
“Gue
mimpi. Mmm..” bola mata hitam Benedy berputar. Mencoba mengingat mimpi semalam.
Ya! “Gue itu di Korea. Nah, gue ditinggal papa gue karena ia tertusuk pedang
saat perang dengan Korea Selatan. Waeyo? Mwo? Aku Juga nggak tau. Gue
nggak punya saudara yeoja ataupun namja. Gue punya dendam untuk
Korea Selatan.” Jelas selkali. Panjang lebar. Wawan yang tadinya ingin
mengerjakan Prnya. Malah antusias mendengar cerita Benedy. Ia seperti waktu
diajak ayahnya di Madura melihat Karapan Sapi.
“Oh
ya Wan. Nama kamu bukan nama Madura. Berubah jadi nama Korea. Namaanyaa....”
lagi-lagi Benedy ngaco. “A-.. Ae-.. Ae Run! Ya, Ae Run. Keren kan Wan?
Logat lo nggak logat Madura loh.. logat Korea.”
Wawan
tercekat. Sebegitu lupa kah anak disampingya itu berpikir luas tentang Korea?
Otak Korea kah? Bagaimana dengan pelajaran PKN Benedy? Pelajaran Seni Tari nya?
***
“Ayo, Benedy. Sebutkan
Tarian dari Papua” tanya bu Ani pagi itu. Mata hitam Benedy yang khas hanya
membulat beberapa kali. Tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Eee..emm..” ia
menyenggol siku Wawan yang tak berkutik. Yang sedang berpikir lupakah Benedy?
Atau sedang memikirkan Korea? Mata Benedy yang bulat melirik ke arah Wawan.
“Wawan, bantu teman
mu!” kata-kata bu Ani membuyarkan pikirannya. Pulpen yang dipegangnya
dilepaskan. Entah, ia menulis apa.
“Ergh.. Tari Raupe, Ura, ergh.. Ma-ma-..” Wawan
gugup. Ia sedikit bangga akan dirinya yang masih ingat akan pelajaran minggu
kemarin. “Ma- Ma-pi-a!” ia tersenyum lebar. Benedy yang melihatnya berkata
terbata-bata mengacungkan jempol untuk teman karibnya. Ia juga bangga. Entah
apa maksutnya.
***
Lagu
kebangsaanku Indonesia Raya. Benderaku merah putih. BAHASAKU BAHASA INDONESIA.
Lihat! Para orang-orang asing mengincar budaya kita! Mulai dari keroncong,
pakaian adat kita, dan tari kita. Juga masih banyak. Bandingkan dengan negara
lain. Apakah mereka punya sebanyak itu? Itu anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Lihatlah! Indonesia punya tambang yang banyak sekali. Tambang yang menjadi
kebutuhan pokok keluarga para negara-negara didunia. Lihatlah Freeport! Itu
milik Indonesia bukan? Hanya saja orang-orang Indonesia BELUM BISA mengolah
sendiri. Tidak! Aku tidak tahu apakah itu benar bahwa Indonesia tidak bisa
mengolahnya sendiri. Apakah budaya Indonesia tidak kalah penting di bola mata
Dunia? Apakah salah mencintai negara In.............
“Ora
mbaca majalah Korea lagi ya, Ben?” tanya Wawan dengan logat Maduranya lagi.
Bocah pindahan 5 tahun ini masih belum melupakan bahasa daerahnya. Bahkan ia
masih sering nge-chat teman lamanya di Madura. Ia menanyakan tentang suasana
saat panen garam.
“Erghh..”
Benedy gugup. Ia refleks memeluk Wawan dan menangis. Di kamar Benedy itulah
pertama kali Wawan melihat Benedy menangis tersedu. Di sisi lain. Tampak
bendera merah putih di atas tiang yang berada di sekolah Wawan dan Benedy
berkibar lembut. Memberi simbol agung nya negara ini. Memberi simbol memberi
maaf pada siapa saja yang menghina dirinya.
Tanpa
mengucap apa-apa, Benedy membuang semua majalah-majalah yang diangggapnya tidak
penting lagi.
“Loh.
Kok dibuang to, Ben? Go Green dong! Kamu kenapa to?” tanya Wawan yang seperti
orang linglugng melihat kelakuan temannya.
“Makasih
wan. Kamu udah nulis ini!” Benedy pun menjawab sambil menyodorkan selembar
kertas tulisan Wawan saat di sekolah tadi. Biar aku lanjutkan ya Wan !
Benedy
melanjutkan tulisan “In...........” yang belum sempat dituliskan Wawan saat dia
di sekolah karena ia dipanggil Bu Ani tadi. Tampak Benedy dengan semangat
menuliskan :
INDONESIA.