Senin, 25 Februari 2013

Maaf


Maaf
Luapan air tak padamkan api
Bergelut dengan muara cahaya
Muara yang tak bertepi
Ribuan kasih tertuang padanya

Maaf...
Muara rasa yang terlanjur merah
Menyeruak ketika ku ingin musnah

Maaf..
Semua ini paradoks, semua ini gila
Antara maaf, amarah, dan cinta

Maafmu..
Tak padamkan api ini
Walau hati terpatri pesona insani

Selasa, 19 Februari 2013

Ku sebut Nama-Mu


Ku sebut Nama-Mu

Hati terenggut waktu
Bumi ini bersedu
Mengiringi dendangku
Yang tak terarah oleh ruang-Mu

Kuasa-Mu terlalu agung
Untuk dikelilingi begitu melesukan
Nama-Mu begitu anggun
Untuk disenandungkan

Semua menggambarkan
Dosaku yang sekecil samudra
Aku ternaungkan
Sayap-Mu yang penuh janji masa

Indonesia,bukan Korea !

Indonesia, bukan Korea !

“Assalamu’alaikum !” Embun pagi sudah melesat di ujung kehidupan dunia. Senyum sapa mulai terlontar dari birbir satu ke lainnya. Mentari pagi pun tak kalah. Ia mulai membangunkan insan-insan yang masih mengeyakkan tidurnya. Harum masakan restoran sudah terbuka. Tercium sudah dari jalan raya serbak asap montor yang melintas cepat saat itu. Harum minyak wangi para artis sudah memenuhi ruang make up pagi itu. Para pejabat sudah menyandang jas dan berangkat ke kantor dengan mobil meluncur mewah membuat para jalanan terkesima melihatnya. Pohon mulai bersenandung pelan jua. Semua itu sudah menandakan pagi sudah dimulai.
“Wa’alaikumsalam” jawab Ibu Benedy pelan melepas kepergian anaknya untuk menimba ilmu. Tapatnya di Sekolah Jung Jae, Korea Utara. Perang dingin masih ada sisanya sejak 1 tahun lalu berperang dengan Korea Selatan. Ya, Benedy pemikir negara atau politikus. Walaupun ia masih menjadi siswa SMP. Jadi, ia bertabah hati karena ayahnya direnggut nyawanya oleh sepucuk pedang tajam. Walaupun hari-harinya dipenuhi dengan kekacauan hati dan dendam hati, ia tetap selalu tampak ceria dnegan lesung pipit di sisi kiri yang mendecakkan pipinya.
***  
 “Sudahlah, loe ini sakit. Jangan kau paksakan masuk sekolah. Atau, gue panggil-kan ibumu untuk datang ke sekolah?” paksa Ae Run padanya.
“Tidak! Aku nggak kenapa-kenapa Ae.” Tolak Bened mentah-mentah untuk tawaran teman sebangkunya yang tampan.
“Ya, kali ini, loe yang menang. Tapi, kalau masalah keras kepala. Emang loe jagonya. Hehehe”
Hanyut lagi dalam kerenungan. Bunga dalam pot kelas disamping Bened bergoyang menggemaskan. Sedang Bened hanya menatap kosong. Ia khawatir akan ibunya yang dirumah sendirian. Bagaimana kalau tentara dari Korea Selatan tiba-tiba datang dan menyatakan perang lagi dengan Korea Utara. Setelah setahun lalu Korea Utara dinyatakan kalah. Memang belum senormal pikiran orang dewasa pikiran Bened. Namun, setidaknya ia punya gambaran bagaimana menggantikan seorang ayah untuk menjaga ibunya dirumah.

***
“Wah.. Produk Korea tuh!” mata seorang siswa membulat saat membaca Majalah Hariannya. Ia menelusuri deskripsi tentang produk yang baru saja dilihatnya.
“Lihat Wan! Bangun! Yaelah, lu tidur mulu sih!” teriak Benedy membangunkan mimpi indah Benedy pulang sekolah itu. Sudah biasa, setiap pulang sekolah Wawan kerumah Benedy untuk menghabiskan waktu untuk surfing internet lah, nge-game, dan budaya-budaya mereka yang sudah membudaya di lungkungan mereka.
“Apaan sih?” mata Wawan mengerjap-ngerjap berusaha untuk melihat jelas.
“Ini nih. Produk Korea. Sepatunya bagus ya! Kaya punyanya Do-do-.. kata Tia kemarin apa? Member suju itu loh! Do-do-donghae! Ya!” ujar Benedy polosnya. Ia tersenyum lebar pada Wawan yang sebenarnya ingin mengucap kata astaghfirullah. Bukan! Wawan bukan seorang religius.
“Ya Allah! Coba lihat produk Indonesianya. Di situ ada nggak? Bandingin dulu dong!”
“Ya nggak lah. Gue bosen ama produk Indonesia. Bisanya cuma bajak, bajak, dan bajak! Apa nggak ada ide lain apa? Kadang juga malah barang selundupan. Kualitasnya juga, akh! Liat aja para artis, apa ada yang pake produk Indonesia? Para pejabat juga udah pake Jas. Yang pastinya itu budaya asing. Jadi, rakyatpun bebas jelajah produk luar negeri dong!”
Wawan hanya mendengus pelan. Berpikir. Betul juga kata Benedy. Tapi,.. sejelek itukah negara Indonesia Raya dipandang rakyatnya sendiri? Bukankah mereka berdarah ibu pertiwi?
“Ah! Kamu. Mimpi apa kamu semalam?” tanya Wawan sambil meraih buku Geografinya. Ia sebenarnya ingin menegur Benedy yang lupa akan tanah airnya.
“Elu tuh ya. Yang dipikkir Cuma mimpi dalam tidur. Nggak papa lah. Tidur juga ibadah kok Wan!” Benedy hanya nyengir. Ia berlaga sok dewasa sambil mengelus rambut keriting Wawan. Wawannya hanya diam cengoh melihat tingkah laku teman baiknya.
“Gue mimpi. Mmm..” bola mata hitam Benedy berputar. Mencoba mengingat mimpi semalam. Ya! “Gue itu di Korea. Nah, gue ditinggal papa gue karena ia tertusuk pedang saat perang dengan Korea Selatan. Waeyo? Mwo? Aku Juga nggak tau. Gue nggak punya saudara yeoja ataupun namja. Gue punya dendam untuk Korea Selatan.” Jelas selkali. Panjang lebar. Wawan yang tadinya ingin mengerjakan Prnya. Malah antusias mendengar cerita Benedy. Ia seperti waktu diajak ayahnya di Madura melihat Karapan Sapi.
“Oh ya Wan. Nama kamu bukan nama Madura. Berubah jadi nama Korea. Namaanyaa....” lagi-lagi Benedy ngaco. “A-.. Ae-.. Ae Run! Ya, Ae Run. Keren kan Wan? Logat lo nggak logat Madura loh.. logat Korea.”
Wawan tercekat. Sebegitu lupa kah anak disampingya itu berpikir luas tentang Korea? Otak Korea kah? Bagaimana dengan pelajaran PKN Benedy? Pelajaran Seni Tari nya?
                                                   ***            

“Ayo, Benedy. Sebutkan Tarian dari Papua” tanya bu Ani pagi itu. Mata hitam Benedy yang khas hanya membulat beberapa kali. Tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Eee..emm..” ia menyenggol siku Wawan yang tak berkutik. Yang sedang berpikir lupakah Benedy? Atau sedang memikirkan Korea? Mata Benedy yang bulat melirik ke arah Wawan.
“Wawan, bantu teman mu!” kata-kata bu Ani membuyarkan pikirannya. Pulpen yang dipegangnya dilepaskan. Entah, ia menulis apa.
“Ergh.. Tari Raupe, Ura, ergh.. Ma-ma-..” Wawan gugup. Ia sedikit bangga akan dirinya yang masih ingat akan pelajaran minggu kemarin. “Ma- Ma-pi-a!” ia tersenyum lebar. Benedy yang melihatnya berkata terbata-bata mengacungkan jempol untuk teman karibnya. Ia juga bangga. Entah apa maksutnya.
                                       ***                                
Lagu kebangsaanku Indonesia Raya. Benderaku merah putih. BAHASAKU BAHASA INDONESIA. Lihat! Para orang-orang asing mengincar budaya kita! Mulai dari keroncong, pakaian adat kita, dan tari kita. Juga masih banyak. Bandingkan dengan negara lain. Apakah mereka punya sebanyak itu? Itu anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Lihatlah! Indonesia punya tambang yang banyak sekali. Tambang yang menjadi kebutuhan pokok keluarga para negara-negara didunia. Lihatlah Freeport! Itu milik Indonesia bukan? Hanya saja orang-orang Indonesia BELUM BISA mengolah sendiri. Tidak! Aku tidak tahu apakah itu benar bahwa Indonesia tidak bisa mengolahnya sendiri. Apakah budaya Indonesia tidak kalah penting di bola mata Dunia? Apakah salah mencintai negara In.............
Ora mbaca majalah Korea lagi ya, Ben?” tanya Wawan dengan logat Maduranya lagi. Bocah pindahan 5 tahun ini masih belum melupakan bahasa daerahnya. Bahkan ia masih sering nge-chat teman lamanya di Madura. Ia menanyakan tentang suasana saat panen garam.
“Erghh..” Benedy gugup. Ia refleks memeluk Wawan dan menangis. Di kamar Benedy itulah pertama kali Wawan melihat Benedy menangis tersedu. Di sisi lain. Tampak bendera merah putih di atas tiang yang berada di sekolah Wawan dan Benedy berkibar lembut. Memberi simbol agung nya negara ini. Memberi simbol memberi maaf pada siapa saja yang menghina dirinya.
Tanpa mengucap apa-apa, Benedy membuang semua majalah-majalah yang diangggapnya tidak penting lagi.
“Loh. Kok dibuang to, Ben? Go Green dong! Kamu kenapa to?” tanya Wawan yang seperti orang linglugng melihat kelakuan temannya.
“Makasih wan. Kamu udah nulis ini!” Benedy pun menjawab sambil menyodorkan selembar kertas tulisan Wawan saat di sekolah tadi. Biar aku lanjutkan ya Wan !
Benedy melanjutkan tulisan “In...........” yang belum sempat dituliskan Wawan saat dia di sekolah karena ia dipanggil Bu Ani tadi. Tampak Benedy dengan semangat menuliskan :
INDONESIA.

Senin, 18 Februari 2013


Ketika Cinta Menyapa
                                           


~You never know what happen next. Just let love lead you to the perfect end.

~Kepada cinta, aku bicara lagi dalam hati, "Tak perlu kau datang jika akhirnya aku dipertemukan dengan kenyataan menyakitkan. Kenapa kau masih disini? Bisakah kau sekarang pergi saja?"

~Just leave me, love. If you only gonna hurt me.

~The best day ever, I spend with you.

~Cinta datang tak bisa ditebak, bekerja dengan cara yang tidak dimengerti, dan berlabuh pada akhir yang     tak terduga.

~Mengapa kita selalu memejamkan mata
  Saat kita berdoa
  Saat kita menangis
  Saat kita bermimpi
  Karena sesuatu yang indah di dunia
  Tak selalu bisa dilihat oleh mata
  Namun harus dirasakan oleh hati

Selasa, 05 Februari 2013

we :D

hhehehehe.. :D

Taylor Swift - Stay Stay Stay :)

I'm pretty sure we almost broke up last night
I threw my phone across the room at you
I was expecting some dramatic turn away but you stayed
This morning I said we should talk about it
Cause I read you should never leave a fight unresolved
That's when you came in wearing a football helmet
And said okay let's talk
And I said...

Stay stay stay I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay

Before you I only dated self indulgent takers who took all of their problems out on me
But you carry my groceries and now i'm always laughing
And I love you because you have given me no choice but to

Stay stay stay I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay stay stay stay

You took the time to memorize me my fears my hopes and dreams
I just like hanging out with you all the time
All those times that you didn't leave it's been occuring to me I would like to hang out with you for my whole life

Stay and I'll be loving you for quite some time
No one else is gonna love me when I get mad mad mad
So I think that it's best if we both stay stay stay stay

Stay stay stay i've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay stay stay stay

Stay stay stay I've been loving you for quite some time time time
You think that it's funny when i'm mad mad mad
But I think that it's best if we both stay

Taylor Swift-Love Story


 Taylor Swift ~ Love Story

We were both young when I first saw you
I close my eyes and the flashback starts
I’m standing there on a balcony in summer air
See the lights, see the party, the ball gowns
See you make your way through the crowd
And say hello, little did I know

That you were Romeo
You were throwing pebbles
And my daddy said stay away from Juliet
And I was crying on the staircase
Begging you please don’t go

And I said
Romeo, take me somewhere we can be alone
I’ll be waiting, all there’s left to do is run
You’ll be the prince and I’ll be the princess
It’s a love story, baby, just say yes

So I sneak out to the garden to see you
We keep quiet ’cause we’re dead if they knew
So close your eyes, escape this town for a little while
Oh, oh, oh
‘Cause you were Romeo,
I was a scarlet letter
And my daddy said stay away from Juliet
But you were everything to me
I was begging you please don’t go

And I said
Romeo, take me somewhere we can be alone
I’ll be waiting, all there’s left to do is run
You’ll be the prince and I’ll be the princess
It’s a love story, baby, just say yes
Romeo, save me, they’re trying to tell me how to feel
This love is difficult, but it’s real
Don’t be afraid, we’ll make it out of this mess
It’s a love story, baby, just say yes
Oh oh

I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town
And I said
Romeo save me, I’ve been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
Is this in my head, I don’t know what to think
He knelt to the ground and he pulled out a ring
And said
Marry me, Juliet, you’ll never have to be alone
I love you and that’s all I really know
I talked to your dad, you’ll pick out a white dress
It’s a love story, baby, just say yes

Oh, oh, oh, oh
‘Cause we were both young when I first saw you